YDSF Malang Ajarkan Pelayanan Pendidikan

0

SERIUS MENDENGARKAN: Para peserta pelatihan guru di Lombok Tengah, serius mendengarkan materi dari Direktur YDSF Malang, Jawa Timur Agung Wicaksono, Sabtu (21/4) lalu di Gedung PKK.

Kabarlombok.com, LOTENG – Para pahlawan tanpa tanda jasa di Lombok Tengah dituntut memberikan pelayanan prima kepada siswa, wali murid, sekolah dan lingkungan. Dunia pendidikan, tidak ada bedanya dengan dunia bisnis. Kalau guru sebatas menjalankan profesi mendidik saja, maka lembaga pendidikan tersebut, cepat atau lambat akan tenggelam.

“Kepercayaan lingkungan, untuk menyekolahkan anak-anaknya pun berkurang, bahkan tidak ada sama sekali. Sekolah pun gulung tikar,” kata Agung Wicaksono, Direktur Yayasan Dana Sosial Alfalah (YDSF) Malang, Jawa Timur dalam pelatihan guru di Gedung PKK Lombok Tengah, Sabtu (21/4).

Persaingan didunia pendidikan, lanjutnya, bukan terletak pada fisik lembaga pendidikannya saja, tapi juga pada pelayanan.

“Mari kita rubah pola lama. Pelayanan prima adalah jawabannya,” tegas Agung, dihadapan para guru yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Loteng.

Agung memaparkan cara untuk mewujudkannya  perlu dilakukan dengan  beberapa hal, mulai dari cara berkomunikasi dengan baik dan benar, koordinasi, profesional, proporsional, mengambil keputusan dengan cepat, cakap dan mampu mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan, membangun lembaga pendidikan dan siswa, menjaga kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan, rajin membaca buku, mengikuti seminar atau pelatihan.

“Lalu, yang terpenting mampu menciptakan generasi unggul dan hebat,” imbuhnya.

Pertanyaannya sekarang, kata Agung, apakah lembaga pendidikan yang ada, menjadi terbuka atau tertutup untuk masyarakat. Jawabannya tergantung pelayanan.

“Itu saja,” ujarnya.

Senada dikatakan Manager Program Pemberdayaan YDSF Malang M Fandi Bakhtiar. Dijelaskan, menjadi guru itu tidak mudah, dibutuhkan keahlian tersendiri. Mereka harus mampu mengendalikan emosi. Kemudian, mengedepankan senyum dan sapa. Sosoknya pun harus menjadi teladan.

“Untuk mencetak guru yang hebat, maka pelatihan yang digelar YDSF Malang inilah jawabannya,” sambungnya.

Kegiatan YDSF yang digelar selama dua hari ini, 80 persen praktek dan 20 persennya teori. Hari pertama membahas tentang, pelayanan prima. Hari kedua membahas tentang, pembangunan tim pemenang.

“Kami berharap, begitu guru-guru yang mengikuti pelatihan ini, kembali ke sekolahnya masing-masing. Mereka berani menerima tantangan,” ujar pria asli Jombang, Jawa Timur ini.

Ia pun percaya, mereka akan menularkan ilmu dan pengalamannya, ke rekan-rekannya yang lain.

Sementara itu Hairunisa Rismawati, Manager Komunikasi dan Layanan Donatur YDSF Malang berharap pelatihan ini bisa bermanfaat. YDSF Malang memiliki lima program kerja meliputi, pendidikan, dakwah dan masjid, sosial kemasyarakatan dan yatim. Yang dilaksanakan di Loteng ini kata dia lebih kepada program pendidikannya saja.

“Terima kasih YDSF Malang. Insya Allah, kami semakin profesional dan menjadi guru yang lebih hebat,” cetus Nurhayati, Kepala Sekolah TKIT Praya. (gf)

LEAVE A REPLY