Usut Dugaan Pemotongan Jatah Bawang Putih di Lotim, Polda NTB Turunkan Tim

0

Foto : Direskrimsus Polda NTB Kombes Pol Baharuddin  Syamsudin

 

Kabarlombok.com – MATARAM
Polda NTB benar-benar serius menindaklanjuti dugaan pemotongan jatah benih bawang putih lokal di Kabupaten Lombok Timur. Keseriusan institusi seragam cokelat ditandai dengan pengumpulan data.

Sejak informasi dugaan pemotongan jatah kelompok bergulir, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda NTB menurunkan tim untuk mencari data dan meminta klarifikasi pihak terkait. Direskrimsus Polda NTB Kombes Pol Baharuddin Syamsudin mengungkapkan, dalam upaya pengumpulan data dan keterangan ini pihaknya telah menurunkan tim untuk melakukan pengecekan langsung di lapangan. Langkah itu, kata dia, sudah dilakukan sejak pekan lalu dengan menemui sejumlah pihak yang berkaitan dengan pendistribusian bantuannya.

“Mulai dari kalangan petani bawang putih sampai kepada pejabat Dinas Pertanian Lombok Timur. Dari dinas, kita sudah dapatkan data. Ada juga beberapa petani yang sudah kita mintai keterangan,” bebernya.

Upaya puldata (pengumpulan data) dan pulbaket (pengumpulan bahan keterangan) akan terus berlanjut sampai bahan yang dibutuhkan di rasa cukup mengarahkan ke dugaan pemotongan jatah.

“Anggota masih di lapangan. Masih kumpulkan data. Kita akan kupas,” tegas perwira mawar tiga itu.

Informasi yang dihimpun, Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, ada 350 ton benih bawang putih lokal yang didistribusikan kepada 181 kelompok tani yang tersebar di 18 desa se-Kabupaten Lombok Timur.

Dengan luasan yang berbeda-beda, setiap kelompok tani mendapatkan kuota benih lokal bersama dengan paket pendukung hasil produksinya, mulai dari mulsa, pupuk NPK plus, pupuk hayati ecofert, pupuk majemuk, dan pupuk organik.

Benih bawang putih lokal sebanyak 350 Ton dibeli dari hasil produksi petani di Kecamatan Sembalun pada periode panen pertengahan tahun 2017. Benih bawang putih lokal dibeli pemerintah melalui salah satu BUMN yang dipercaya sebagai penangkar yakni PT. Pertani, dimana pembeliannya menggunakan anggaran APBN-P 2017 senilai Rp30 miliar.

Namun pada saat pendistribusian bantuannya di akhir tahun 2017, banyak kelompok tani yang mengeluh tidak mendapatkan jatah sesuai data. Bahkan ada sebagian dari kelompok tani yang tidak sama sekali kebagian jatah.

Seperti yang sebelumnya pernah diungkapkan oleh salah seorang ketua kelompok tani yang masuk dalam daftar penerima bantuan di Sembalun, Sinawarni. Dia bersama sejumlah ketua kelompok tani penerima bantuan menduga ada yang tidak beres dengan kegiatan pendistribusiannya.

“Dari Desa Sembalun Bumbung contohnya, ada kelompok tani atas nama Sembalun Bumbung Hijau, dengan ketuanya Amaq Gofar, luas lahannya 2 hektare, jatah benih lokalnya 1.400 kilogram. Tapi sebiji pun dia tidak dapat, dikemanakan benihnya,” kata Sinawarni, belum lama ini. (ril)

LEAVE A REPLY