“Tertib Nalar”, (Jawaban Wawancara Ali BD)

0

Oleh: Ardy

Dignity. Menurut wikipedia, “dignity” bermakna ; harga diri, kewibawaan, martabat, keluhuran,– keagungan dan kemuliaan.

Dalam uraian wikipedia tersebut, kita diminta untuk membacanya perlahan dan mengajak untuk mengulangi dengan menuliskan makna dignity itu kembali. Saya mengartikannya sebagai tekanan bagi para pembaca untuk benar-benar memahami dengan benar makna pentingnya dignity dan menjadikannya sebagai prinsip dalam hidup bernegara.

Presiden Pakistan Zia zul haq pernah berkata kepada Raja Fad ; “kami tidak mengirim perempuan kami untuk bekerja diluar negeri karena kami tak yakin mampu melindungi kehormatan-nya” . Zia zul haq menekankan pondasi untuk memupuk dignity bagi bangsanya.

Saya sangat terkejut pagi ini mendapat kiriman vidio wawancara salah seorang calon Gubernur NTB, Bapak Ali bin dahlan, saya simak beberapa saat.

Beliau mengulas dan memberikan Beberapa uraian mengenai tingkat kemiskinan di NTB, -meng-kritisi program pariwisata yang sedang berjalan, dan tentunya kritik pedas terhadap kinerja pemerintahan yang sedang berjalan.

Secara pribadi saya mengangap, betapa tidak runut-nya logika yang beliau gunakan.

Dalam salah satu poin yang di-kritisi, ia mengatakan bagaimana pemerintah NTB saat ini tidak tepat dalam mencanangkan pariwisata sebagai andalan untuk mendatangkan devisa.

Ia membuat perbandingan dengan jumlah perputaran keuangan yang masuk dari sektor tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri, oke good,–lebih besar nilai keuangan yang masuk dari sektor TKI untuk sementara ini.

Tetapi kemudian pertanyaannya, “lalu dimana letak dignity” ?

Bukankah seorang pemimpin harusnya men-jiwai makna dignity, visioner, mampu merancang tidak hanya hari ini tetapi kedepan.

Justru pondasi-pondasi mengarah kepada itu sudah ditancapkan oleh pemerintah saat ini.

Salah satu contoh adalah pembangunan
“Islamiq Center”, saya selalu menyebutnya dalam tulisan saya, “Islamiq Center sebagai tonggak membangun peradaban Islam di timur,- dan itu berarti, pemerintahan saat ini telah menanamkan pondasi mengenai apa yang kita sebut dengan “dignity”.

Pembangunan bandara Internasional, bertujuan untuk membuka akses masuk dunia selebar-lebar-nya, hal demikian itu bukan tanpa target jangka menengah dan panjang, tentunya wajib untuk diteruskan.

Sebagai calon Gubernur, Ali Bin Dahlan seharusnya merancang program pariwisata yang lebih baik, bukan malah membiarkannya berkembang secara alami, membandingkan dengan Bali yang telah dikenal dan menjadi tujuan wisata sejak tahun 30-an seperti yang ia katakan,–“biarlah pariwisata tumbuh secara alami”. Dunia sudah ber-ubah pak bos” !! ,– mungkin anda sudah terlalu uzur, istirahatlah.

Membuat perbandingan dengan memberangkatkan TKI untuk bekerja di luar negeri dan kemudian anda bangga dengan devisa yang masuk, sungguh lucu.

Apakah tepat jika seorang calon pemimpin ber-logika demikian, “lebih tepat mengirim warganya sebagai tenaga kerja keluar negeri- dibanding berjibaku memajukan sektor pariwisata yang pondasinya telah disiapkan” ?

Sebagai perbandingan ; Turkie 15 tahun lalu belajar bagaimana cara untuk menggenjot sektor pariwisata kepada Indonesia. Hari ini menurut data departemen pariwisata Turkie, 70 juta turis berkunjung ke Negara itu setiap tahun-nya, dan anda tau berapa jumlah penduduk turkie?,– hanya 40 juta saja, silahkan berhitung pak.

Mari “tertib nalar”,– tanamkan kerendahan hati untuk mengakui keberhasilan kawan mapun rival, melanjutkan sesuatu yang baik menjadi lebih baik lagi adalah ciri keluhuran Budi pekerti insan, dan calon pemimpin harus memiliki itu.

Mungkin anda merasa ny’entrik dengan berbagai kontroversi yang anda munculkan,- tetapi bagi saya tidak,–anda justru norak.

Tabuhlah gendangmu sendiri, buat wargamu menari, itu lebih baik dari pada mencaci-maki gendang orang lain.

LEAVE A REPLY