Tak Miliki Sense of Crisis, Dispar NTB sebaiknya Tunda BPLS

0

Kabarlombok.com – MATARAM

Even tahunan Bulan Pesona Lombok Sumbawa (BPLS) 2018 yang akan digelar Dinas Pariwisata disarankan untuk ditunda. Sebab waktu penyelenggaraan even besar ini jaraknya terlalu dekat dengan waktu bencana gempa berkekuatan 7,0 yang mengguncang pulau Lombok Minggu (5/8).

“Sebaiknya ditunda dulu, jangan sekarang. Kita sedang berduka. Waktunya Bisa digeser berdekatan dengan HUT NTB yang juga sebentar lagi,” ungkap politisi Partai Nasdem M Nashib Ikroman via pesan singkat whatsapp yang diterima kabarlombok.com Jumat (10/8).

Ia mengklaim, jika diselenggarakan sesuai jadwal akan memunculkan persepsi buruk.  Seperti bisa dianggap berhura-hura ditengah duka korban gempa, mengingat di Lombok Utara hampir semua rumah roboh dan seluruh warga mengungsi.

“Pemprov bisa dianggap tidak memiliki sense of crisis,” cetus  mantan Ketua Bappilu Partai Demokrat NTB ini.

Jika even BPLS ini, lanjutnya, dianggap sebagai kebangkitan pariwisata, maka hal tersebut juga kurang tepat, sebab tidak didukung kondisi objektif saat ini. Pasalnya seluruh fasilitas pariwisata rusak, seperti hotel, restauran dan fasilitas akomodasi lainnya.

“Bagaimana wisatawan mau datang, jika fasilitas akomodasi tidak tersedia. Jangan sampai karena gedung hotel yang belum dicek, justru mendatangkan bencana baru,” tandasnya.

“Coba lihat bangunan-bangunan hotel, semua retak-retak, bahkan di Gili banyak yang ambruk,” tambahnya.

Ikroman meminta Dispar NTB melakukan langkah lain yang lebih mendesak, seperti memimpin seluruh stakeholder pariwisata melakukan pembersihan sarana prasarana pariwisata, melakukan audit konstruksi hotel dan bangunan fasilitas pariwisata lainnya.

“Jangan sampai gedung-gedung hotel yang terkena gempa justru membahayakan tamu yang datang,” harapnya.

Ditambahkannya hal lain yang bisa dilakukan masih banyak, seperti penggalangan relawan pariwisata, atau juga menggalang orang untuk menjadi relawan dengan bentuk perjalanan tertentu, serta membersihkan destinasi-destinasi pariwisata.

“Ini jauh lebih produktif dibandingkan dengan menggelar BPLS,” tegasnya.

Ia juga berharap jika Dispar tetap ngotot melaksanakan BPLS, bentuknya bisa dirubah menyesuaikan keadaan, seperti pentas-pentas seni budaya yang digelar di lokasi-lokasi bencana sebagai hiburan warga setempat sekaligus sebagai trauma healing.

“Atau mengajak semua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) melakukan aksi-aksi di destinasi untuk membantu korban. Banyak bentuk yang bisa dilakukan untuk kepedulian terhadap korban gempa,” pungkasnya.

Untuk Diketahui, BPLS 2018 ini akan digelar pada 18 Agustus hingga 23 September 2018. Memasuki tahun kelima penyelenggaraan, BPLS 2018 ini dirangkai dengan 14 event besar, di antaranya Mataram Night Run, Festival Kota Tua Ampenan, serta Lombok Begending. Selain itu ada juga Gili Tramena Begawe, Festival Senggigi, Festival Pesona Moyo, hingga Sail Indonesia Moyo Tambora.
(red)

LEAVE A REPLY