Sitti Rohmi : “Kita Harus Terus Maju”

0

WAWANCARA Dr. Hj Sitti Rohmi Djalilah (Calon Gubernur NTB 2018 -2023)

“Sitti Rohmi Djalilah,

silaq dukung jemaah

Sitti Rohmi Djalilah,

calon sak mule solah.

Sitti Rohmi Djalilah,

ikhtiar sere molah…”

 

Demikian sepenggal syair lagu yang dinyanyikan para santri di sebuah pesantren di Lombok Tengah. Sitti Rohmi Djalilah, nama yang disebut dalam lagu tersebut, adalah perempuan berwajah keibuan yang belakangan ini kian akrab di mata publik.

Awal Juli silam, Rohmi resmi “ditawarkan” Nahdatul Wathan (NW) kepada masyarakat Nusa Tenggara Barat sebagai calon gubernur 2018-2023. Cukup banyak kalangan yang surprise dengan penunjukkan itu. Boleh jadi karena sosok Rohmi memang tidak setenar TGB yang merupakan adik kandungnya dan Gubernur NTB saat ini.

Rohmi sendiri menyikapi amanah dari NW itu dengan tenang tanpa grogi. “Saya bukan siapa-siapa. Menjadi calon gubernur amanah yang berat. Saya menerimanya sebagai ladang ibadah…” ujarnya dalam sejumlah kesempatan. Berikut kutipan wawancara bersama Rohmi.

Nama anda muncul mengejutkan publik. Sebagian kalangan menyebut Anda mengekor pada nama besar TGB. Apa benar begitu?

Sama sekali tidak. Memang kami bersaudara dan itu adalah takdir Tuhan. Tetapi bukan berarti saya mengekor padanya. Nama saya ditawarkan NW kepada masyarakat NTB untuk menjadi calon gubernur sudah melalui proses yang panjang. Segala sisi dan aspek pastinya telah dipertimbangkan. Saya menerima ketetapan itu dengan lapang dada dan akan menjalani proses politik ini dengan sebaik-baiknya.

Tagline Anda Melanjutkan Ikhtiar TGB, apa maksudnya?

Sederhana saja. Tagline itu menegaskan satu hal bahwa proses pembangunan di NTB harus kita pastikan berkelanjutan atau berkesinambungan. Dengan tagline itu, saya mencoba memahami secara utuh potret NTB saat ini.

Segenap capaiannya dan setumpuk tantangannya ke depan. Siapapun yang menjadi gubernur, ia tidak memulai dari nol. Ia menerima warisan dari pemimpin sebelumnya. Warisan keberhasilan, juga warisan tantangan dan persoalan.

“Melanjutkan Ikhtiar TGB” juga berarti terus mendorong serangkaian terobosan dan percepatan pembangunan di NTB. Sudah banyak yang kita capai, tetapi kita harus punya satu tekad besar untuk terus maju dan maju. Sikap cepat berpuas diri, tidak boleh ada pada kita orang NTB.

Jadi kongkretnya, apa yang akan Anda lakukan jika menjadi gubernur?

Melanjutkan yang TGB telah lakukan. Sekali lagi dalam maknanya yang produktif dan progresif. Antara lain memperbaiki terus tatakelola birokrasi. Meningkatkan terus kualitas pelayanan publik, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan.

Mendorong terus peningkatan nilai tambah komoditas pertanian, perikanan, peternakan. Memastikan terus sektor pariwisata tumbuh menyakinkan dan memberikan multi player efect yang lebih nyata. Juga  memastikan pembangunan infrastruktur NTB berjalan lebih cepat untuk meningkatkan dayasaing kita.

Bagaimana dengan soal kemiskinan? Bagaimana kiat anda mengeluarkan NTB dari 10 provinsi termiskin di Indonesia?

Semua ikhtiar kita membangun daerah, muaranya adalah melawan kemiskinan. Kita bersama bertekad lebih maju dalam upaya melawan kemiskinan ini. Kita harus membaca peta dengan tepat dan melihat potret lapangan dengan utuh. 5 tahun pertama TGB memimpin NTB, penurunan kemiskinan terjadi hingga mendekati 7 persen. Sebuah capaian yang progresif. Dunia mengakuinya dengan mengundang Gubernur NTB berbicara di Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat pada 2015 silam.

Prestasi ini harus kita jadikan rujukan untuk terus melawan kemiskinan ke depan. Kita semua yang hidup di rumah besar NTB ini, harus satu visi dalam hal ini. Arah kebijakan pembangunan kita harus terus mengedepankan kepekaan terhadap mereka yang miskin. Memberikan mereka peluang demi peluang untuk mengelola sumberdaya pembangunan secara produktif dan berkelanjutan.

Ini pekerjaan besar yang menuntut kebersamaan dan keteguhan hati kita semua. Potensi kita di NTB untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan keluar dari sebutan provinsi termiskin, sangatlah besar. Kuncinya kita bersatu padu dalam kebersamaan mengelola potensi itu dengan tepat, secara cermat dan berkelanjutan.

Anda bisa jadi akan menjadi gubernur perempuan pertama di NTB. Bagaimana Anda menyikapi itu?

Jika itu benar terjadi, pertama saya pastinya akan beristigfar meminta perlindungan Alloh agar amanah menjalankan mandat. Soal perempuan menjadi kepala daerah, tidak ada yang istimewa. Biasa saja. Sebab di daerah lainnya perempuan telah cukup banyak berkiprah menjadi kepala daerah. Di NTB, Bupati Bima juga perempuan. Beberapa diantaranya bahkan menorehkan prestasi yang fenomenal. Seperti Ibu Risma misalnya. Saya salah satu pengagumnya.

“Melanjutkan ikhtiar itu berarti terus mendorong serangkaian terobosan dan percepatan pembangunan di NTB. Sudah banyak yang kita capai, tetapi kita harus punya satu tekad besar untuk terus maju dan maju.”

 

Rohmi sejatinya bukan orang baru di politik. Ia pernah menjadi ketua DPRD Lombok Timur. Aktifitas sosialnya panjang dan beragam. Latar pendidikannya juga menyakinkan. Gelar doktor di bidang pendidikan diraihnya dari Universitas Negeri Jakarta. Saat ini Rohmi adalah Rektor Universitas Hamzanwadi, salah satu universitas swasta terkemuka di NTB.

Di atas itu semua, perempuan kelahiran Pancor 47 tahun silam ini punya satu modal sosial besar: dukungan ratusan ribu abituren NW.

Inilah jemaah yang ia cintai dan mencintai dirinya. Maulana Syech Zainuddin Abdul Madjid, kakek dari Rohmi adalah ulama kharismatik pendiri NW.

Untuk kaum Anda apa yang akan Anda lakukan jika menjadi gubernur?

Ini pertanyaan menarik sekaligus penting. Potret perempuan di NTB oleh sebagian orang dikatakan buram. Saya tidak mau seradikal itu. Kemiskinan, kebodohan dan pemahaman agama dan budaya yang keliru, menjadi penyebabnya.

Membuatnya jadi cerah jelas tidak bisa seketika. Tapi progresnya harus jelas dan terukur. Persoalan perempuan itu kompleks dari hulu sampai hilir. Dari urusan domestik rumah tangga sampai perkara kebijakan struktural negara dan praktek budaya yang sering disebut tidak ramah pada perempuan.

Misalnya saja soal anak perempuan yang tidak bisa sekolah, soal perempuan yang  bekerja di negeri orang (TKW) soal perempuan yang menikah di usia dini, soal perempuan yang menjadi kepala keluarga tunggal, soal perempuan yang terbatas modal usahanya,  soal perempuan yang mengalami kekerasan rumah tangga, dan isu-isu lainnya.

Semua itu harus kita tangani dengan cepat dan menyentuh akarnya. Kata orang salah satu akar utamanya adalah kemiskinan. Saya akan mendengarkan masuk­an dari semua kalangan yang lebih paham mengenai isu-isu perempuan ini, sebelum kita merumuskan langkah dan kebijakan yang lebih kongkret nantinya.

Pikiran Anda tampak progresif, yakinkah Anda bisa memenang­kan hati rakyat? Apalagi belakangan isu pemimpin perempuan dihembuskan?

Bagi saya yang terpenting adalah men­jalani proses ini dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Saya ingin pemilih di NTB mengenal sosok saya dan memahami pikiran-pikiran saya, untuk kemudian memilih saya dengan keyakinan mereka.

Mengenai pemimpin perempuan di NW, saya kira tidak menjadi isu yang ramai. Hanya dibicarakan terbatas saja. Bagi kami di NW, jelas  tidak memungkinkan perempuan menjadi pemimpin tertinggi atau istilah kami Ketua Umum Pengurus Besar NW.

Namun dalam hal pemilihan kepala daerah, rujukannya bukan AD/ART NW, tetapi hukum negara. Dalam undang-undang misalnya,  tidak ada larangan perempuan jadi presiden, gubernur, bupati dan walikota. Jadi apa dasarnya perempuan berlatar  NW seperti saya, tidak boleh ikut dalam kontestasi politik Pilkada?

Lalu kapan Anda akan menetapkan pasangan?

Pasangan apa ini? Hahahaha. Saya sendiri pun belum resmi menjadi calon apapun. Sebab yang berhak mencalonkan seseorang menjadi calon gubernur adalah partai politik. NW tidak punya hak mencalonkan.

Saya kader NW yang ditawarkan kepada masyarakat NTB. Jadi Prosesnya semua sedang berjalan di partai politik. kita lihat dan ikuti perkembangan ini dengan sabar.

Saya menyakini, di atas semua ikhtiar manusia, ada ketetapan Tuhan yang berlaku. Sejauh ini masyarakat NTB menerima saya dengan baik. Suatu kenikmatan yang besar bagi saya menerima sambutan hangat seperti itu.

Terakhir, apa yang Anda pelajari dari TGB yang diakui banyak kalangan sebagai gubernur yang relatif berhasil?

Tentu saja banyak dan tidak cukup ruang untuk saya ungkapkan di sini. Yang pasti saya punya guru yang terbaik. Sebab pengalaman adalah guru yang paling berharga. TGB punya pengalaman dua periode jadi gubernur. Padanya saya bisa banyak bertanya, berdiskusi dan memetik pembelajaran berharga. (*)

LEAVE A REPLY