Sambung Silaturrahmi, Ribuan Warga Mbojo Banjiri Festival Rimpu di Monas

0

Kabarlombok.com – JAKARTA

Ribuan warga Bima-Dompu yang berada di kawasan Jabodetabek mengikuti Festival Rimpu di halaman Tugu Monas Jakarta Pusat Minggu (15/7). Sembari menikmati car free day, mereka menggunakan sehelai kain warna-warni khas Mbojo Bima-Dompu yang disebut tembe nggoli atau kain tenun sebagai Rimpu, jilbab tradisional khas warga mbojo.

Sesepuh Paguyuban Masyarakat Perantau Bima-Dompu NTB di Jabodetabek Harun Al Rasyid mengungkapkan Rimpu merupakan bagian dari budaya unik yang hanya ada di Bima-Dompu. Rimpu menggunakan sarung tenun khas (tembe nggoli) yang terdiri dari 2 (dua) lembar sarung. Satu digunakan untuk bagian atas (kepala),  dan satunya lagi untuk menutup bagian bawah (badan hingga ujung kaki). Biasanya para lelaki menggunakannya untuk katente tembe dengan cara melingkarkannya di pinggang.

“Rimpu ini melambangkan syar’i dalam agama islam di Bima-Dompu sejak dahulu,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, syar’i merupakan satu kewajiban bagi seluruh umat islam. Sebab itu ada dua cara pemakaian Rimpu. Yakni kain bagian atas dilingkarkan pada kepala hingga yang terlihat hanya wajah (Rimpu Colo) bagi perempuan yang sudah menikah. Sementara pemakaian Rimpu selanjutnya hanya memperlihatkan bagian matanya saja (Rimpu Mpida).

“Ini bagi perempuan yang belum menikah,” sambung Harun.

Salah seorang penggerak sosial budaya muda asal Bima, Zulhaidin menuturkan, penggunaan Rimpu dimulai sekitar tahun 1640. Saat itu sultan memberikan syarat sunat pada lelaki dan menutup aurat pada perempuan. Pada masa itu masyarakat masih banyak menganut paham animisme dan dinamisme, dimana bagian atas perempuan masih telanjang.

“Sama seperti Lombok dan Bali saat itu,” tuturnya.

Saat itu sultan meminta perempuan untuk menggunakan sarung dobel untuk bagian atas dan bawah. Kain tersebut dikenal dengan sebutan tembe. Tembe saat itu merupakan kain pintal dari benang kapas. Namun seiring berjalannya waktu, tembe jenis ini mulai susah untuk didapatkan sehingga beralih ke kain wol.

“Setiap kecamatan punya motif berbeda,” akunya.

Rimpu tidak hanya menggunakan tembe nggoli. Ada juga kain bernama Salungka. Salungka ini lebih halus dibandingkan nggoli dan hanya digunakan pejabat kesultanan pada masa itu. Sementara dari segi motif tembe ada beragam. Namun motif yang banyak digunakan adalah motif dari filosofi Nggusu Waru. Seperti bunga bersudut delapan, weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai).

“Motif paling langka itu bunga satako di Donggo, karena butuh waktu satu tahun pengerjaan yang membuat harganya sangat mahal,” katanya.

Jumlah warga mbojo yang mengikuti Festival Rimpu Bima-Dompu diperkirakan mencapai 5.000 lebih orang. Festival tersebut tidak hanya mengadakan pawai rimpu. Namun juga menampilkan beberapa atraksi seni budaya seperti tarian, pencak silat, hadra, ntumbu tuta, biola Bima, bazar kuliner dan pameran wisata daerah Bima-Dompu.  Selain untuk menunjukan eskistensi pada dunia, perhelatan akbar yang pertama kali di gelar ini juga untuk menyambung tali silaturahmi dan mengobati rasa kangen perantau Bima-Dompu di Jabodetabek.

Sekretaris Daerah NTB, Rosyadi H. Sayuti berpesan kepada perantau Bima-Dompu di Jabodetabek untuk terus menjaga nama baik daerah asal dan selalu mengingat budaya Rimpu. Ia juga berharap agar masyarakat Perantau Bima-Dompu di Jabodetabek tetap mendapatkan kenyamanan dan kesejahteraan.

“Dimanapun kita berada kita harus tetap ingat asal kita,” katanya.

Perhelatan ini juga menyedot perhatian banyak kalangan. Hal ini terlihat dari banyaknya ambassador atau perwakilan dari luar negeri yang hadir. Seperti Yaman, Maroko, Mesir, Iran, Qatar, Surian, Brunai, Vietnam dan Thailand. Tak hanya itu, anak mantan Presiden RI, Guruh Soekarnoputra, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013-2015, Hamdan Zoelva, dan beberapa tokoh-tokoh lainnya juga hadir. (bn)

LEAVE A REPLY