(POLITIK) ULAMA (POLITIK)

0

Foto : Saat TGB HM Zainul Majdi sowan ke Kiai Chusaini Ilyas.

Oleh : Gus Doel Rofii Chusaini Ilyas  (Putra Kiai Khos Jatim)

Kalimat di atas hanya boleh dibaca 2 kata saja, terserah 2 awal atau 2 akhir. Mohon jangan terburu menambahinya dengan konotasi apapun yang reflek terbersit di pikiran.

Dulu. Sesaat setelah Kyai membaca dan memaknai bait tentang komentar Ibnu Malik ra terhadap karya pendahulunya, Ibnu Mu’thi ra, Beliau berhenti dan menarik nafas panjang. Kami santrinya mengira Beliau masygul dengan kejadian itu, ternyata bukan. Beliau kemudian menjelaskan bahwa diamnya itu karena berusaha mencegah sisi psikologis pribadinya ikut campur ‘berkomentar’ atas peristiwa hebat itu, yang ujungnya bisa terjerumus bias, ‘merendahkan’ Ibnu Malik ra karena ujub, atau menganggap pantas karena memang karyanya lebih bernas.

Di akhir ngaji, Beliau menambahkan wejangan yang kurang lebih begini, “Cung. Dalam perjalanan ngaji Kalian, nanti akan banyak Kalian temukan komentar seorang ulama kepada ulama lain, baik dari sisi karya maupun karakter. Pesan Saya, jangan pernah melibatkan opini pribadi Kalian dalam komentar itu. Perlu dipahami, ada kapasitas keilmuan dan adab yang mumpuni dalam komentar-komentar itu, yang seringkali tidak digambarkan di dalam tulisan. Sementara Kita yang membacanya, kebanyakan belum memenuhi syarat secara ilmu maupun adab, untuk ikut campur dalam komentar-komentar itu. Takutnya jika perasaan dan nalar Kalian terlalu dalam ikut campur, justru menggambarkan kejadian dan para pelakunya lebih rendah dibanding aslinya.
Jadi jika suatu saat Kalian menemukan hal-hal seperti ini, ambil hikmahnya. Kencangkan ikatan ta’dzim, demi kebersihan dan kemaslahatan ilmu Kalian sendiri.”

Saya sebenarnya ndak tertarik komentar dinamika politik terkini. Bagi Saya, fenomenanya sudah masuk dalam tahap bikin menurunnya nafsu makan, meski sayangnya tidak sampai signifikan menurunkan berat badan.

Belum lama ini, ada sahabat yang tiba-tiba ‘nodong’ Saya memberi komentar tentang ulama di dalam pusaran politik. “Bagaimana pendapat Sampean tentang TGB, Cak?”
Saya senyumi saja. “Beliau alim.” Jawaban Saya datar walau Saya paham konotasi pertanyaan itu ke arah mana.
“Bukan itu maksud Saya,” sergahnya. “Kenapa Dia tiba-tiba balik arah? Permainan apa yang sedang Dia jalankan?”

Saya ndak pernah sreg dengan pertanyaan asumtif semacam ini, karena ujungnya ndak pernah pasti. “Permainan”? Dipikir yang sedang Dia tanyakan ini sekelas diri Saya yang kualifikasinya semenjana. Fenomena mudahnya seseorang menjustifikasi orang lain memang lagi trend. Mau kualitas pendapatnya cemen atau berbobot, mau yang dikomentari secemen komentatornya atau yang lebih berkualitas, bodo amat.

Pertanyaan di atas sudah tidak patut dari sisi adab, maka Saya jawab memakai cara yang sebenarnya tidak professional, dengan pertanyaan. “Semumpuni apa kapasitas keilmuan dan adab Sampean sampai mempertanyakan langkah seorang Tuan Guru?”

Dia terperangah. “Lha kan banyak yang sudah menanggapi, termasuk sesama Ulama juga.”

“Sesama Ulama silakan, insya Allah ada kapasitas ilmu dan adab yang terjaga. Lha Kita? Sampean yakin mencari jawaban? Atau sekedar membandingkan jawaban Saya nanti dengan opini Sampean yang sudah terbentuk sebelum pertanyaan itu tadi?”

Sesaat Dia diam. “Apa ya pantas Ulama sekaliber Beliau punya langkah politik seperti itu? Zigzag.” Keluhnya. Wajahnya sarat kekecewaan, entah karena masygul, ada Ulama yang berpolitik, atau karena shock, Ulama idolanya punya langkah politik yang berseberangan.

“Lha kan, wajah Sampean jadi televisi perasaan Sampean, mleyot nganan ngiri. Gini lho, Sampean menyebut Beliau Ulama, maka ada kapasitas Beliau yang Sampean akui. Oleh karena itu, setidaknya, standarkan opini Sampean berdasar kapasitas itu. Itu jika Sampean memang benar ingin dapat opini yang lumayan jernih. Cek saja yang dasar dulu. Beliau orang yang cacat adab dan akhlaq? Saya rasa bukan. Ilmu Beliau juga di atas rata-rata kita yang semenjana ini. Jadi langkah yang Beliau ambil, sebelum ini, saat ini, atau setelah ini nanti, insya Allah sudah melalui tahapan pertimbangan 2 hal itu.”

Dia termangu.

“Soal ada Ulama lain yang mengambil langkah berbeda dengan Beliau, malah bagus. Kita ini yang cuma ikut, jadi punya pedoman. Mau ikut langkah Beliau monggo, mau ikut Ulama yang lain silakan. Sejarah menuliskan banyak Ulama yang mengambil langkah berseberangan, dan tetap elegan, karena mereka tidak menurunkan standar, baik adab maupun ilmu, termasuk dalam berkomentar. Yang sering terperosok itu justru komentar kita-kita ini, suka beropini menggunakan standar kapasitas pribadi tentang orang lain yang secara kapasitas lebih tinggi. Ngomentari mereka yang terbiasa dengan standar tinggi, terutama adab, itu sama saja dengan menguji kewarasan diri. Istilahnya, wong ngegas pol jalur lurus saja beraninya cuma sampai angka 160 kok komentar aneh-aneh cara balap Rossi atau Marquez yang nikungnya saja minimal 160.”

Dia ngakak. Saya ikutan.

“Politik Ulama itu indikatornya mudah, selain ditopang keilmuan yang mumpuni, juga tetap mengedepankan adab, terutama yang terkait dengan menjaga marwah pribadi dan orang lain. Kebanyakan mereka memang menjauhi gaung politik, tapi itu lebih karena kemawasan diri mereka yang luar biasa, sadar kapasitas.”

“Lha kok ada yang malah gak lepas dari politik?” Sergahnya.

“Ya kembali lagi, karena memang ada kapasitas, justru harus terjun. Dalam sejarah, ada contoh Ulama (yang berkecimpung dalam) politik, Mbah (KH. Abdul) Wahab (Chasbulloh), atau Gus Dur. Tapi cermati, standar yang mereka pakai dalam berpolitik identik. 1. Punya standar adab dan ilmu mumpuni, 2. Mereka dalam kiprahnya single-fighter, selalu memakai nama pribadi, sebisa mungkin menghindari keterlibatan kelompoknya secara frontal, baik organisasi maupun jamaah, 3. Ending yang ingin dicapai dalam setiap langkah mereka adalah maslahah manfaat, dan sebisa mungkin menghindari provokasi konflik. Identitas ini juga yang Insya Allah dijadikan rujukan oleh TGB dalam ijtihad politiknya, atau langkah Gus Yahya (Cholil Staquf) dalam menyikapi Palestina-Israel. Soal kita punya langkah berbeda dari mereka berdua karena ada panutan lain, monggo mawon, sah-sah saja. Yang kemudian melanggar kepantasan adalah merecoki pilihan mereka dengan standar kita, apalagi sampai mengait-ngaitkan hal itu dengan semua afiliasinya.”

“Intinya?”

“Sak karep Sampean. Konsen dengan apa yang Sampean yakini saja, gak elok orak-arik pilihan orang lain selagi pilihan itu tidak menimbulkan hal-hal yang merusak. Terutama dalam ranah satu ini, politik, yang memang sangat dinamis.”

Entah kenapa Dia kemudian mesem. Lihat HP sejenak, kemudian menawari nraktir ngopi di warung langganan, yang dengan sangat terpaksa Saya tolak tegas.

Sambil ngeloyor Saya bilang, “Kapan-kapan saja. Ini sudah kemalaman. Saya ndak mau sok bijak tapi ujungnya tidur di musholla gara-gara kekancingan gak bisa masuk rumah.”

Mojokerto, 09-07-2018

Tulisan disadur dari facebook Gus Doel Rofii Chusaini Ilyas, Putra Pengasuh Ponpes Al Misbar Karang Nongko, Mojokerto KH Chusaini Ilyas.

LEAVE A REPLY