Peserta Subsidi Asuransi Ternak di Lotim Capai 58% dari Jatah yang Sudah Terealisasi di Provinsi

0

Lombok Timur,
Pemerintah pusat, dalam hal ini Kementrian Peternakan dan Kesehatan Hewan RI belum lama ini mengeluarkan sebuah program untuk meningkatkan produksi hewan ternak dalam negeri, program tersebut diberi nama Program Sapi Indukan Wajib Bunting atau disingkat SIWAB. Dimana Program Siwab ini adalah kawin suntik induk jbetina dalam bentuk inseminasi buatan.

Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur, Ir. H. Sutarno Maharyafi diruang kerjanya beberapa waktu lalu, ia menambahkan bahwa dalam program ini pemerintah menargetkan 32 ribu straw jenis sapi yang meliputi sapi ras bali, ras eksotik atau limosin, dan termasuk sapi jenis brangus.

Selain program Siwab ini lanjut Sutarno, pemerintah juga memiliki program Asuransi Ternak yang dikhususkan untuk masyarakat yang mengelola ternak secara berkelompok yang nilai preminya sebagian ditanggung oleh pemerintah.

“jadi masyarakat kelompok ternak ini tidak perlu khawatir jika sapinya tiba-tiba mati mendadak ataupun hilang tapi sudah diasuransikan nanti itu akan diganti dengan sejumlah uang” kata Sutarno.

Hal ini juga tentunya dimaksudkan karena dibeberapa tempat di wilayah Lotim sangat rawan pencurian, sehingga masyarakat kelompok ternak ini sangat diharapkan untuk memanfaatkan kesempatan mengikut sertakan untuk mengasuransikan hewan ternaknya.

Sementara itu, Jun salah seorang warga Kecamatan Aikmel yang merupakan salah satu pengurus kelompok ternak ketika dimintai pendapatnya (14/03), dirinya mengaku sangat bersyukur dengan adanya program asuransi ternak ini, disamping preminya yang sudah disubsidi pemerintah, masyarakat juga menjadi lebih tenang dalam memelihara hewan ternaknya.

“ya kita sangat bersyukur sekali dengan adanya program asuransi ini, jadi kita sebagai pihak yang terlibat tidak khawatir lagi jika ada ternak yang kehilangan atau tiba-tiba mati” ujarnya.

Ditempat terpisah, Lukman (14/03) yang merupakan Kepala Bidang Pengembangan Usaha Peternakan pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur menjelaskan, program Asuransi Usaha Ternak Sapi atau disingkat AUTS ini hanya dikhususkan untuk jenis Hewan Sapi saja.

Selain itu lanjut Lukman, program ini juga bekerjasama dengan salah satu perusahaan jasa asuransi yaitu Jasindo yang preminya disubsidi oleh pemerintah, sama halnya dengan asuransi padi ataupun asuransi nelayan.

“jadi satu ekor ternak itu preminya Rp. 200 ribu/tahun, subsidi dari pemerintah itu Rp. 160 ribu, sehingga masyarakat peternak hanya membayar Rp. 40 ribu saja pertahunnya” beber Lukman.

Adapun hewan ternak sapi yang masuk kategori asuransi ini adalah sapi yang tergolong usia dewasa atau siap potong, dikarenakan standar klaimnya yang terbilang cukup besar yakni mencapai Rp. 10 juta untuk beberapa kategori klaim.

Kategori klaim pertama adalah klaim potong paksa akibat sakit, kategori ini mendapat klaim Rp. 7 juta, setelah dikurangi biaya cek kesehatan hewan ternak, berikut berita acara surat keterangan penyataan bahwa hewan ternak tersebut memang benar-benar sakit.

“kategori kedua adalah kehilangan, kategori ini mendapat klaim sebesar Rp. 9 juta setelah pengurusan dokumen yang disertai dengan surat keterangan dari Desa maupun Polsek terdekat” Lanjutnya.

Sedangkan kategori ketiga adalah hewan ternak sapi yang mati bangkang, dan setelah petugas dari dinas terkait melakukan pemeriksaan bahwa memang betul-betul ternak tersebut mati bangkang secara tiba-tiba. Kategori ini mendapat klaim sebesar Rp. 10 juta.

Menurut Lukman, pihaknya melihat sampai dengan sejauh ini masyarakat peternak khususnya di wilayah Kabupaten Lombok Timur sangat antusias untuk bergabung mengasuransikan ternak sapi mereka.

Hal ini terlihat dari jatah subsidi Provinsi yang mencapai 5000 ekor sapi, sejauh ini laporan yang masuk dari Perusahaan Asuransi Jasindo bahwa jatah NTB tersebut baru 1721 ekor yang sudah terasuransi.

“baru 1721 ekor se-NTB, sementara kita di Lombok Timur, ternak yang sudah diasuransikan itu sebanyak 737 ekor, artinya angka ini mencapai 58% dari jatah 5000 ekor yang sudah asuransikan Provinsi, jadi kita di Lotim ini paling banyak” sambungnya.

Ketika ditanya mengenai peran dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lotim untuk suksesi program ini, pihaknya mengaku hanya sebatas mendampingi dan memfasilitasi saja dikarenakan program tersebut adalah merupakan pusat. (tur)

LEAVE A REPLY