PERGUNU Lotim Tolak Keras Kebijakan FDS

0

kabarlombok.com | Lombok Timur

Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kabupaten Lombok Timur menolak kebijakan sekolah delapan jam sehari atau Full Day School (FDS) dan lima hari sepekan karena banyak lembaga pendidikan yang akan mendapatkan dampak buruk.

“PERGUNU Lotim menolak keras full day school lima hari sekolah delapan jam sehari,” kata Saifuddin Zuhri dalam sebuah acara NU di Selong, 14/8.

Menurut dia, penguatan pendidikan karakter tidak sejalan dengan penambahan jam belajar menjadi delapan jam sehari. Dengan kata lain, sekolah seharian itu tidak cocok jika dikaitkan dengan penguatan karakter siswa lewat pendidikan. Dia mengatakan fakta di lapangan menunjukkan banyak sekolah belum siap menerapkan FDS seperti terkait fasilitas penunjang.

“Penerapan lima hari belajar, ada asumsi anak kota terjerumus dalam pergaulan tidak baik itu tidak sepenuhnya benar. Kenyataannya tidak semua anak meninggalkan kultur agama,” ucapnya.

Di pelosok, kata dia, terdapat siswa yang membutuhkan waktu separuh hari lainnya untuk membantu bertani dan menjadi nelayan. Dengan sekolah seharian, maka kegiatan tersebut terancam tidak bisa dilakukan.Selain itu pula kita di Lombok memiliki teradisi sendiri anak anak pada sore dan malam hari anak anak kita mengaji,

“jika FDS ini di berlakukan maka sama artinya membunuh kegiatan keagamaan anak dan cocoknya program ini lebih tepat jika di Programkan di ponpes” Jelasnya.

LEAVE A REPLY