Pengamat Politik Kok Modal Sinis

0

Oleh: Ardi

Gilak, saya membaca tulisan seorang pengamat politik lokal NTB , saya ulang hingga dua kali.

“Obyektifitas nampak-nya menjadi masalah dalam kerangka berpikir-nya”

Setidak-nya ada dua garis besar yang hendak di- kupasnya. Gelar prestisius doktor, salah satu paslon yang tidak ia yakini memiliki program untuk memajukan NTB , hanya copas punya TGB dan itu ia artikan sebagai wujud dari ke-tidak mampuan untuk men-ciptakan program untuk di-tawarkan ke masyarakat NTB,– wow, edyan tenan.

Ia mengatakan, dengan kualitas calon pemimpin semacam itu, “tak mampu membuat program”, yang justru merupakan hal prinsip, menurutnya, akan menyebabkan semakin dalamnya jurang kemiskinan yang terjadi di NTB, ketimpangan pembangunan semakin meningkat dan — bla bla bla, – jiaaah, orang itu nulis pake pemahaman data apa hanya sinis-me level VII,— level ter-pedas pada gerai makan Richeese.

Justru yang terjadi di NTB, sila cek data,- penurunan tingkat kemiskinan terjadi 1 persen per tahun, fakta. Perkembangan pembangunan infra struktur, ngak perlu pake mata telanjang, tutup mata aja udah terasa kok.

Lalu dimana ia nemu kalimat, “semakin mem-perlebar kemiskinan dan ketimpangan pembangunan”,- fix — pembualan, dan tentunya melecehkan hasil kerja pemerintahan di bawah komando TGB.

Saya tak ada kepentingan dengan paslon atau pilkada NTB. Sekedar pengantar, mengapa saya tulis ini, tak lain hanya untuk mencoba mendudukan “tertib bernalar” bagi calon pemilih, sehingga tidak ter-giring opini menyesatakan yang di-tulis oleh “katanya pengamat politik”, namun, pengamatan-nya tanpa menyertakan data-data akurat. Sila nilai sendiri.

Saya merasa, masyarakat berhak menentukan pilihan-nya dengan logika benar yang tak diplintir oleh opini-opini sesat dan menyesatkan.

Melanjutkan ikhtiar TGB, tag line itu coba di-mentahakan dengan kesimpulan yang saya rasa ia paksakan. “Ooee, — dua doktor itu nga punya otak, nga bisa bikin program sendiri”, kira-kira demikian maksudnya, asem,- seperti anak kecil saja cara ia mengambil sebuah kesimpulan.

Jika ia pernah membaca buku “Ikhtiar tiada henti” , maka akan ter gambar jelas disana, bahwa permasalahan fundamen pembanguanan yang terjadi di- NTB selama ini adalah “ketidak ada-nya ke-sinambungan program dari era satu pemimpin dengan pemimpin berikut-nya”.

Tongkat estafet berganti, program pun berganti.
Padahal justru hal semacam itu penyebab gagalnya pembagunan secara merata dan menyeluruh.

Lalu kemudian kesimpulan anak kecil tadi di-kembalikan kepada pembaca, “melanjutkan program berarti tidak bisa bikin program”, demikiaan ia berusaha menggiring pembaca untuk ber-kesimpulan.

Padahal jika kita masuk kepada tataran akademik, saya tidak untuk membela gelar doktoral, tetapi logika tidak tertib yang di gunakan si pengamat politik di-atas, menjadi aneh saja untuk disajikan pada publik.

Bayangkan saja, jika setiap pergantian pemimpin membuat program baru dengan tidak mengindahkan program kepemimpinan sebelum-nya, yang nyata-nyata berhasil membawa NTB lebih maju, justru tentunya dari sisi pengangaran akan kacau balau dan rawan penyalah guna’an, high risk, apa lagi jika kemudian pemerintah baru terpilih itu lima tahun berikutnya tak terpilih lagi, lacur.

Saya rasa sebab itu-lah pasangan doktor yang disebut-nya menurut saya, justru pastinya telah melakukan riset secara komprehensip, bahwa melanjutkan apa yang menjadi program jangka menengah panjang pemerintahan TGB adalah program terbaik yang akan mereka tawarkan.

Karena masyarakat secara nyata merasakan bahwa “program TGB berhasil memajukan NTB”.

Ke-luhuran Budi dari kedua doktor tersebut, mau menerima dengan kelapangan hati, menyingsingkan ego dan mengakui kebarhasialan pembangunan pemerintah sebelumnya adalah modal tepat untuk memimpin dan memajukan NTB tentunya lebih dari sebelumnya, “blue print” udah ada, ngapain aneh-aneh, riset baru, biaya lagi.

lanjutkan saja program TGB , toh program sebelumnya terbukti berhasil, maka pembangunan lanjutan akan berjalan lebih cepat dan lebih nyata hasilnya, masyarakat-pun lebih mudah untuk ikut mengawasi. So,– “melanjutkan ikhtiar TGB” itu adalah tag line yang keren. Dah gitu aja.

*ardi-tuan, wahai.
Pengamat pasar pagi.

LEAVE A REPLY