Pemilik Paspor Ganda Harus Pilih Salah Satu Status Kewarganegaraan

0

Kabarlombok.com – MATARAM

Sekitar dua minggu lalu, pemilik Puri Bunga, Senggigi, Marcel Lothar Manfred Navest dilaporkan ke Kantor Imigrasi Kelas IA Mataram. Ia dilaporkan oleh Aliansi Indonesia. Dalam laporan itu, marcel dituding telah melanggar Undang-Undang Nomor 12/2006 tentang Kewarganegaraan.

“Kami sudah melaporkannya ke pihak Imigrasi karena Marcel mengantongi paspor ganda,” ucap koordinator Aliansi Indonesia, Marzuki, Senin (3/9).

Dilaporkannya Marcel, jelasnya, lantaran pihaknya tidak ingin ada orang asing yang bermain-main dengan kedaulatan dan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Inonesia (NKRI).

Marzuki menerangkan, paspor yang dikantongi Marcel, untuk paspor Indonesia terbit pada tahun 2014, sedangkan paspor Belanda terbit 2015.

Bagi Marzuki, terbitnya paspor Belanda belakangan dianggap aneh. Padahal yang bersangkutan sudah lebih dulu menggugurkan status kewarganegaraan Belanda dengan memilih menjadi warga negara Indonesia (WNI).

Atas laporan ini, sejumlah pihak terkait dipanggil Imigrasi Mataram. Marcel dipanggil dan dimintai keterangannya terkait paspor ganda yang dimilikinya. Tak hanya marcel, istrinya, Annie Cornia juga dimintai keterangan terkait paspor ganda milik suaminya.

Terhadap laporan ini, Kepala Imigrasi Kelas IA Mataram Dudi Iskandar membenarkan bahwa Marcel telah dilaporkan. Yang bersangkutan telah dipanggil dan diminta keterangan.

Dudi memastikan sejauh ini belum ada unsur pidana dalam kasus tersebut. Hanya saja, karena sudah terbit paspor ganda, Marcel dipastikan harus memilih salah satu status kewarganegaraan.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan, terbitnya paspor Indonesia dari Imigrasi adalah benar. Di lain sisi, pihaknya juga menelusuri keabsahan paspor yang keluar dari pemerintah Belanda.

“Laporan lisan via telepon dari Kedutaan Belanda yang ada di Bali membenarkan bahwa Marcel memiliki paspor Belanda,” ucapnya.

Laporan lisan dari Kedutaan Belanda, lanjutnya, sejauh ini belum secara tertulis. Laporan tertulis ini masih ditunggu pasca dilayangkannya surat resmi ke Kedutaan Belanda meminta keterangan terkait paspor Marcel.

Sikap Imigrasi Mataram, terangnya, belum sampai pada tindakan deportasi. Penyebabnya, Marcel juga berstatus WNI dari jalur perkawinan. Selain itu, status kewarganegaraan Marcel telah didukung Keputusan Presiden (Keppres).

“Marcel harus melepas salah satu status kewarganegaraannya. Lagi pula kita tidak mengenal adanya dwi kewarganegaraan,” tegasnya.

Sejauh pemeriksaan pihaknya, Marcel telah memilih status kewarganegaraannya. Yang bersangkutan telah memilih menjadi warga negara Indonesia dan melepas kewarganegaraan Belanda.

“Tapi akan terus kita dalami dengan melakukan pemeriksaan dalam kasus ini. Untuk sementara, itu dulu kesimpulan kami,” ujarnya.

Menanggapi apa yang disampaikan kepala Imigrasi kelas IA Mataram, pelapor dari Aliansi Indonesia meminta agar tidak main-main dalam kasus ini. Menurutnya Marcel secara jelas telah mengantongi paspor ganda.

“Jangan disuruh memilih, deportasi saja yang bersangkutan. Jangan sampai hukum dan kedaulatan kita diinjak-injak,” tegas Marzuki.

Menurutnya sangat aneh jika pihak Imigrasi meniadakan unsur pidana dalam kasus tersebut. Nyata-nyata Marcel telah mengantongi dua paspor berbeda.

Terpisah, Marcel Lothar Manfred Navest tidak menampik jika dirinya memiliki paspor Belanda dan paspor Indonesia.

“Sebenarnya sudah saya ajukan perpanjangan untuk paspor Belanda, tapi lama keluar. Karena tidak keluar, saya pindah kewarganegaraan menjadi WNI,” ucapnya.

Sayangnya, setelah paspor Indonesia diterima, paspor Belanda malah keluar. Karena mengantongi dua paspor, Marcel lantas berniat mengembalikan paspor Belanda tersebut.

Saat hendak dikembalikan, ucapnya, ia terbentur dengan berbagai kesibukan. Belakangan, saat hendak dikembalikan, paspor Belanda tersebut justru hilang.

“Sudah mau kirim balik paspor Belanda, tapi hilang. Rupanya dicuri istri dan saya melaporkan yang bersangkutan,” tegasnya.

Selain itu, Marcel menegaskan dirinya kini telah memilih menjadi WNI. Ia mengaku sudah beradaptasi dengan baik pola pergaulan di Indonesia.

“Saya lepas kewarganegaraan Belanda dan memilih menjadi warga Indonesia,” ujarnya. (bn)

LEAVE A REPLY