LOMBOK LOMBOQ

0

 

Menilik sisi bahasa, kata yang terdiri dari ejaan huruf L, O, M, B, O, dan K ini lebih populer sebagai salah satu varietas tumbuhan (sayuran) yang memiliki sifat rasa spicy atau pedas. Sayuran ini pun dikenal dengan sebutan cabe, hampir di seluruh wilayah Indonesia. Tak ayal, ketika ada seorang mengucap, atau sekilas terpantau mata di tulisan media, kata Lombok langsung mengarahkan pikiran pembacanya ke Cabe. Tapi, ”Lombok Bukan Cabe!” begitulah sanggahan para pegiat terutama di sosial media, untuk menjawab stigma Pulau Lombok, yang diidentikkan dengan cabe.
Dewasa ini, nama Lombok mulai mencuat, hampir mengubah julukan ‘cabe’ yang selama ini lebih dulu populer. Dikenal karena keindahan panoramanya, terutama eksotisme pantai, Lombok menjadi istimewa, topik hangat sedunia. Pulau Lombok, adalah pulau kecil di wilayah Indonesia Tengah, yang luasnya hanya sekitar 1/27 luas Pulau Jawa. Berada di timur Pulau Bali, Lombok tak kalah indah dengan Pulau yang sudah berpuluh tahun populer itu. Bahkan, Lombok berani menyebut “Di Lombok, kita bisa menemukan Bali. Tapi di Bali, tidak ada Lombok”.
Jika Anda memiliki sosial media seperti instagram, mengetik tagar ‘lombok’ bisa menemukan jutaan postingan. Isinya bermacam; keindahan alam, kuliner, lingkungan yang friendly, dan lainnya. Kaya! Itulah satu kata untuk komplitnya ‘konten’ di Pulau Lombok. Lombok memang sejak kurang lebih 4-5 tahun terakhir, sangat populer terutama di ranah sosial media. Hampir setiap hari, orang sedunia membicarakan.
Sebagai konsekuensi popularitas tersebut, terlebih tahun lalu Lombok dinobatkan sebagai destinasi wisata halal berkelas dunia, agaknya banyak hal harus ‘diluruskan’ terutama terkait makna kata Lombok itu sendiri. Memangnya ini penting? Tentu! Nama, memiliki sejuta makna. Dan jangan lupa, nama bisa menjadi representasi apa yang di dalamnya.
Ketika berstatement “ Lombok Bukan Cabe!” tentu khalayak bertanya, “Kalo bukan cabe, dong apa Lombok itu? (maaf ini aksen bahasa Indonesia salah satu wilayah di Lombok, harus dilestarikan)”. Jawabannya adalah Lombok itu sebenarnya berasal dari kata LOMBOQ. Beda satu huruf aja, sih, tapi signifikan. “Memangnya, apa jaq arti Lomboq itu? (ini juga aksen salah satu wilayah di Lombok, bagian timur)”.
Lomboq artinya lurus. Lurus ‘gimana? Ya, lurus. Apanya yang lurus? Ya, semuanya lurus! Nah inilah tadi, maksud dari nama merepresentasikan apa yang di dalamnya. Untuk makna ini, mari coba di ‘corong’ dari sisi geografis dan sosio cultural. Pertama, dari sisi geografis, kata Lomboq merepresentasikan wilayah Lombok dari ujung Barat sampai Timur, itu relatif lurus. Jika Anda berkendara, ambil garis dominan dari Ampenan menuju Labuan Lombok, maka jalur yang ditempuh relatif stagnan. Tak banyak beloknya. Dari Ampenan melewati Jalan Langko, lurus ke timur menuju Sweta, lurus lagi sampai Lombok Tengah di Wilayah Mantang, lurus lagi sampai wilayah Lombok Timur di Masbagik, lurus terus sampai akhirnya sampai di gerbang timur Pulau Lombok, yakni Labuan Lombok (Kayangan Port). Wisatawan atau orang yang baru pertama ke Lombok, akan sangat diuntungkan dengan kondisi ini. Gampang, enak, dan nyaman. Kalo mau simple sih tinggal luruuuusss aja. Enak, kan?
Next, secara sosio cultural. Unsur humanisme dalam kebudayaan, tercermin dalam keseharin penduduk lokal Pulau Lombok. Orang Lombok pribumi dikenal lurus. Lurus artinya, susah berbelok. Lurus ini terlihat pada kepatuhan dan loyalitas pada orang yang berilmu. Terutama dalam ilmu agama. Sebagai contoh, pernah terdengar dahulu ketika ada kontestasi politik di tingkat desa (di sebuah desa). Penduduk lokal, ketika ditanya soal pilihan, cukup menjawab “Ape saq basen penjuluqte (Tuan Guru) yang artinya Apa yang disuggest Tuan Guru, itulah yang dipilih” Ya, Lombok memang dikenal banyak Tuan Guru (kalau di Jawa, Kyai). Contoh kecil ini menggambarkan betapa patuhnya, betapa lurusnya penduduk lokal Lombok. Tidak mudah terkontaminasi. Mereka patuh, dan loyal. Buktikan!
Lombok, memang sangat istimewa. Keindahan dan kehangatan alamnya, tampak terbentuk dari keseharian penduduk lokalnya. Jika saja Lombok tetap diartikan Cabe, mungkin kesan yang muncul adalah Lombok ini orangnya keras, cuacanya sangat panas, dan kondisi alamnya tandus. Nama memang merepresentasikan kondisi di dalamnya. Mulai sekarang, sebutlah Lombok dengan mengilhami Lomboq-nya. Karena Lombok itu benar-benar Lomboq, tanpa di‘Romboq’.

Penulis, Jien Raharja (Vokalis The Datu Band

LEAVE A REPLY