LOMBOK BEBAS GEMPA, SAATNYA TIDUR DRUMAH

0

(searah jarum jam) Gegar Prasetya, Ph.D,M.Sc, Dr. H. Rosiyadi Sayuti, Dr. Danny Hilman Natawidjaja,M.Sc,

Kabarlombok.com – Mataram

Gempa yang terjadi di Lombok bisa terjadi di wilayah manapun. Anggapan bahwa Lombok lebih berbahaya adalah tidak beralasan. Ada beberapa hal yang perlu diketahui ; pertama gempa itu memiliki siklus dimana setiap sumber gempa memiliki siklus ratusan bahkan ribuan tahun. Artinya butuh waktu lama untuk gempa besar terjadi lagi karena adanya proses pengisian energi. Demikian dikatakan Dr. Danny Hilman Natawidjaja.MSc. Peneliti utama LIPI, Ahli Geologi dan gempa bumi usai sholat Jumat di Islamic Center Mataram pada Jumat (07/09).

Didampingi Sekretaris Daerah Provinsi NTB Dr. H. Rosiyadi Sayuti dan Ahli kelautan dan Tsunami yang juga Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATsI) Gegar Prasetya. Ph.D. MSc. Ia memaparkan hasil penelitiannya, dilokasi gempa ada satu jalur gempa besar sesar naik; terbentang mulai dari Alor, Flores, Sumbawa, Bali, Lombok bahkan hingga pulau Jawa.

“Segmen lombok terbagi tiga bagian yaitu Tengah, Barat dan Timur. Semua energinya sudah lepas. Itulah sebabnya gempa memiliki rangkaian yang cukup lama dirasakan. Gempa pembuka utama 19 Juli 6,3 dan gempa susulan 6,9 5 Agustus lalu tidak berasal dari sumber yang sama,” katanya.

Danny Hilman menyimpulkan gempa besar tidak akan terjadi lagi karena rentetan dua gempa pembuka dengan energi maksimal sudah lepas.

“Secara umum Lombok sudah aman dari gempa besar, khususnya KLU paling aman, bagi yang rumahnya tidak rusak saya sarankan kembali kerumah, namun kalau masih betah di tenda silahkan,” ungkapnya.

Trend gempa susulan masih terjadi namun mulai melemah. Hal ini kata Danny Hilman untuk menstabilkan kembali sumber gempa.

“Jadi sumber gempa memiliki siklus yang lama bisa puluhan bahkan ratusan tahun lagi untuk mengeluarkan energi besar, seperti KLU untuk 50 hingga 100 tahun sudah aman dari gempa besar,” tandanya.

Untuk Sumbawa Barat kata Dia masih ada tersimpan energi besar yaitu bisa mencapai magnitudo 7.

“Energi ini belum lepas namun tidak serta merta meluapkan energinya begitu saja, ada periodenya, seperti tiga segmen Lombok yang kompak mengeluarkan energi total hingga magnitudo 7,4,” imbuhnya.

Sementara itu Ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATsI) Gegar Prasetya. Ph.D. MSc mengatakan potensi tsunami di Lombok itu kecil maksimal. Kalaupun ada tingginya 1,5 M dengan jarak kurang dari 1 Km. Tsunami itu epicenternya harus di laut. Potensi terjadinya tsunami bila kekuatan gempa bisa meratakan semua bangunan dengan magnitudo 8-9 seperti yang terjadi di Aceh 2004 lalu.

“Dimanapun di wilayah Indonesia, tsunami itu terjadi paling lama setengah jam setelah gempa, kalau lewat setengah jam ada yang bilang akan terjadi tsunami itu pasti bohong,” katanya. (bn)

LEAVE A REPLY