Lagu Berbahasa Lokal, Modal Dakwah Hamzanwadi

0

Kabarlombok

Dalam perjalanan penulisan lagu, Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid mengekspresikan buah ilhamnya melalui tiga bahasa. Yang pertama bahasa Ibunya yaitu bahasa Sasak, yang kedua Bahasa Indonesia, dan yang ketiga bahasa Arab.  Tentu penggunaan tiga bahasa ini memliki tujuan-tujuan, menggambarkan waktu pembuatan, menggambarkan perasaan dan banyak hal tentang proses mencipta.  Saya mencatat beberapa lagu dengan lirik bahasa sasak seperti :   Lirik berbahasa Sasak , Nahdlatain, Sakit Jahil, Beguru Agame, Pacu Gamaq Lirik berbahasa Indonesia , Mars NWDI , Bersatulah Haluan, Mars Nahdlatul Wathan. Lirik berbahasa Arab :Ahlan Biwafdi Dzairi,Tanawwaro mahfaluna,Nilnal ‘Ula,Ya Fata Sasak,Ya Man Yarumul Ula,Ya Zaljala li wal ikrom,Imamuna Syafi’I,Fityatul Ulum.  Pada bahasan ini saya ingin mengurai tentang lagu-lagu berbahasa lokal, yang diciptakan oleh Pendiri Nahdlatul Wathan. Penggunaan sarana komunikasi lokal semisal bahasa lokal sebagai elemen dakwah, adalah upaya cerdas dalam tujuan-tujuan meraih hasil dakwah yang maksimal. Komunikasi dalam dunia dakwah sangat amat vital. Jangan berharap berharap banyak dari cara komunikasi yang buruk. Bisa jadi justru kesia-siaan dan lebih buruk lagi cara komunikasi yang buruk akan membuat juru dakwah dimusuhi. Juru dakwah yang faham akan kearifan lokal akan memanfaatkan elemen kebudayaan lokal, semisal seni budaya yang sedang diminati sebagai tools meraup simpati dan memuluskan jalan dakwah. Adalah para Sunan penyebar Islam di tanah Jawa, juga sangat cekatan meramu elemen budaya lokal sebagai sarana dakwahnya. Wayang adalah media yang sangat diminati di masa lalu, maka para da’i penyebar Islam memanfaatkan wayang sebagai sarana dakwahnya. Mungkin telinga kita juga tidak asing dengan lagu yang dipopulerkan artis lagu lagu berirama religious, Opick berjudul Tombo Ati.  Konon lagu tersebut juga adalah karya da’i di masa silam. Beliau adalah Sunan Bonang.  Lagu tersebut menjadi pengantar tidur bagi anak-anak bayi ketika digendong oleh ibunya. Lagu dibuat dengan desain populer, tidak rumit, gampang dihafal serta easy listening. Tapi jika dicermati, lagu tersebut memiliki penekanan penekanan yang kuat, padat dan berat dari segi konten. Wali Songo, sebelum memulai dakwah, terlebih dahulu melakukan pengamatan di medan dakwahnya. Mereka mempelajari bahasa, mepelajari adat istiadat, mempelajari kepelajari seni budaya dan kegemaran masyarakat setempat.  Masyarakat Jawa sangat gemar memainkan gamelan dan tembang-tembang. Maka muncullah kreatifitasnya. Wali Songo melahirkan karya tembang, gamelan serta wayang yang berisi konten dakwah. Setelah masyarakat tertarik dengan karya-karya tersebut, barulah masyarakat diajarkan bersuci, wudlu dan shalat. Di masa silam saja, sebelum berkembangnya ilmu strategi dakwah, para wali sangat cerdas dan peka terhadap medan dakwahnya. Mereka tidak main labrak dan tidak menaruh peduli terhadap kultur setempat. Hal-hal yang sudah melekat dengan masyarakt tidak serta merta dihapus dan dihilangkan, justru dilestarikan dan diberi muatan dakwah dan disesuaikan dengan ajaran islam. Nah kita kembali ke lagu-lagu karya  Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid, yang menggunakan bahasa Sasak. Lagu-lagu tersebut juga menggunakan bahasa Sasak sebagai pengantar dalam upaya mendekatkan dakwah ke tengah masyarakat. Lagu berbahasa Sasak akan mengantarkan dakwah yang disampaikan menjadi lebih hangat dan lebih cepat diterima. Salah seorang masyaikh Ma’had menceritakan bahwa lagu-lagu yang diciptakan Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid, memberi dampak positif dan efek yang luas. Lagu-lagu berbahasa Sasak  dengan cepat meraih simpati dan populer dengan cepat. Dalam buku music populer yang ditulis Mauli Purba dan Ben M. Pasaribu, dijelaskan beberapa jenis music populer yaitu pertamalagunya pendek keduamelodinya, harmoni, dan ritmenya cepat akrab ditelinga pendengar, ketiga liriknya akrab. Mari kita urai ciri populer tersebut dengan lirik lagu berbahasa lokal yang lahir dari ilham yang diterima oleh Maulana syaikh. Pertama ,lagunya pendek-pendek. Empat lagu yang diciptakan maulan Syaikh tiga diantaranya terbilang pendek. Lagu Sakit Jahil hanya tiga bait, Beguru Agame hanya dua bait,  dan Pacu Gamak tiga bait. Hanya lirik lagu  Nahdlatain saja yang diciptakan enam bait. Artinya unsur pendek dari ciri music populer ada dalam lagu-lagu berbahasa lokal yang dicipta Maulana Syaikh. KeduaMelodi, harmoni, dan ritmenya cepat akrab dengan telinga kebanyakan pendengar. Cepat akrab yang dimaksud adalah tergantung kebiasaan musical ditengah masyarakat. Pada masa-masa itu, telinga masyarakat Lombok sangat akrab dengan irama mendayu-dayu, laras slendro-pelog, atau lagu-lagu berilama lambat semacam pengantar tidur. Maka kemunculan lagu berbahasa lokal dengan irama slow bisa cepat akrab dan menjadi nyanyian para santri dan orang-orang tua.  KetigaTema liriknya akrab. Tentu akan akrab karena menggunakan bahas yang digunakan sehari-hari. Ketika kita melihat sebuah karya lagu, film atau buku yang mengupas lokalitas atau diri kita sebagai sebuah suku, maka secara otomatis kita akan tergerak untuk tahu. itulah yang kemudian menjadi daya tarik lagu-lagu reigi ciptaan Maulana Syaikh di hadapan para jamaah dan murid-muridnya. Setelahnya lagu-lagu berbahasa Indonesia pun diciptakan, dalam rangka mengindonesiakan masyarakat Lombok. Walaupun berikutnya beliau mencipta lagu berlirik Melayu dan bahasa Arab. Dari sisi konten, lagu-lagu berbahasa Sasak berisi anjuran untuk menuntut ilmu, terutama menuntut ilmu agama.  Simak saja lirik dari lagu Sakit Jahil. Sakit Jahil Sakit jahil Ndek narak oatne Selainan sik te beguru ngaji Semeton Jari Si masi sakit Te pade beroat lek Nahdlatul Wathan Agente Selamet Eraq Le Akhirat Te Pae beroat Le Nakdlatul Banat Agente Selamet Eraq lek Akhirat Pade ngaji lek Nahdlatul Wathan Pade Ngaji lek Nahdlatul Banat Bilang jelo ndek te mele telat Rumu dirikte sampung masih sehat Tebeguru ngaji lek Nahdlatul Wathan Agen ndekta nyesel  era leq akhirat Te beguru ngaji lek Nahdlatu Banat Agen ndek te nyesel erak lek akhirat Terjemahan : Sakit jahil tak ada obatnya Selain dari belajar mengaji Saudaraku yang masih sakit Mari berobat di Nahdlatul Wathan Agar kita selamat di akhirat Mari berobat di Nahdlatul Banat Agar kita selamat di akhirat Mari mengaji di Nahdlatul Wathan Mari mengaji di Nahdlatul Banat Setiap hari jangan terlambat Urus diri mumpung kita masih sehat Belajar mengaji di Nahdlatul Wathan Agar tidak menyesal di akhirat Belajar mengaji di Nahdlatul Banat Agar tidak menyesal di akhirat Lagu Sakit Jahil mengibaratkan orang yang tidak berilmu atau jahil sebagai orang yang sakit. Sakit adalah kondisi di mana badan didera rasa sakit, lemah, dan tak bisa beraktifitas dengan leluasa. Orang sakit mengalami tekanan tidak hanya fisik, tapi juga psikologinya. Tidak banyak pekerjaan yang bisa diperbuat oleh orang sakit. Paling hanya bisa berbaring di tempat tidur, kalaupun bisa bergerak, hanya mondar mandir ke kamar mandi, atau sekitar rumah saja sambil menahan sakit yang dideritanya. Sakit lawannya sembuh. Jika ingin bergerak dan berpikir lebih sehat, maka ia harus diberi obat agar tersembuhkan. Tanpa obat maka tak mungkin bisa disembuhkan. Begitu logika berpikir dari lagu ini. Sang pencipta lagu menawarkan kesembuhan bagi mereka yang mengalami peyakit kebodohan.  Sakit jahil Ndek narak oatne, Selainan sik te beguru ngaji,artinya Sakit jahil itu tak mungkin diobati selain dengan berguru dan menggaji. Pada bait berikutnya pencipta langsung mengarahkan agar mereka yang sakit jahil untuk menuntut ilmu di lembaga pendidikan yang beliau dirikan yaitu Madrasah Nahdlatul Wathan.  Orang yang tidak berilmu harus diobati dengan belajar di dua madrasah utama yaitu Nahdlatul Wathan bagi yang pria dan Madrasah Nahdlatul Banat untuk yang wanita. Pada bait berikutnya terdapat kalimat Rumu dirikte sampung masih sehat.Kalimat ini terjemahan bebasnya “asuhlah atau peliharalah diri selagi masa sehat. Kerjakanlah hal-hal yang berguna untuk kehidupan pribadi dan orang lain semasa badan masih sehat. Jika sudah sakit atau tak sehat lagi, maka yang ada adalah ketidakberdayaan. Kita tak punya daya lagi untuk belajar, mengaji, pergi ke tempat pengajian atau melakukan ibadah lain yang menuntut kehadiran kita secara fisik. Menggunakan waktu luang dengan maksimal, sebelum datangnya kesempitan, menggunakan waktu sehat sebelum datangnya rasa sakit, menggunakan waktu muda dengan baik sebelum datangnya masa tua, adalah anjuran Rasulullah SAW kepada ummatnya. Lagu ini memiliki semangat yang sama dengan ajaran nabi tersebut. Manusia diajarkan untuk menggunakan sebaik-baiknya waktu luang untuk belajar dan menuntut ilmu agar tidak timbul penyesalan di hari tuanya. “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (Hadits) Ilmu adalah cahaya yang bisa menerangi perjalanan peradaban suatu bangsa. Tanpa keberadaan ilmu, sebuah bangsa akan gampang ditindas, gampang diperdaya, gampang diinjak-injak dan dijajah oleh bangsa lain. Di masa awal kedatangan maulana syaikh dari menuntut ilmu di Makkah, masyarakat Sasak di Lombok dalam kondisi masih sangat terbelakang. Selain dijajah oleh Belanda dan Jepang, sebelumnya rakyat Lombok juga mendapat tekanan oleh pemerintah kerajaan Bali.  Hanya sebagian saja diantara rakyat Lombok yang bisa mengecap dunia pendidikan. Mereka hanya terdiri dari orang-orang kaya. Ilmu pengetahuan adalah barang mahal. Itulah sebabnya maulana syaikh kemudian mengambil langkah untuk mendorong masyarakat agar tergerak untuk rajin mengaji, rajin belajar, rajin menuntut ilmu agar terlepas dari belenggu “sakit jahil” dan terbebas dari penjajah. Lirik bertemakan kewajiban menuntut ilmu ada dalam empat lagu berbahasa Sasak yang diciptakan Maulana Syaikh yaitu Sakit Jahil, Beguru Ageme, Pacu gamak dan Nahdlatain. Logisnya jika masyarakat telah sukses didorong untuk gemar menuntut ilmu, maka kemajuan dalam bidang lain akan gampang pula dicapai. Selain lagu sakit jahil, berikut teks lagu Beguru Ageme dan Pacu gamak.   BEGURU AGAME Inaq amaq ku Si demen lek agama Serah gamak anak de Beguru agame lek madrasah si arak due Nahdlatul Wathan taokne mun ne mama Nine lek Nahdlatul banat Agen ndek te pade nyesel erak lek akhirat Lamun ndek te pade serah anakde Lelah doing upakde Si meranakang ye Lek dunie sampe akhir mase Terjemah Ibu bapakku yang gemar pada agama Serahkalnah anaknya Belajar agama di madrasah yang dua Nahdlatul Wathan tempatnya untuk pria Wanita di Nahdlatul Banat Agarlah tidak menyesal kelak di alkhirat  Kalau anaknya tidak di serahkan Lelah saja yang menjadi upah Yang melahirkannya Dari dunia sampai akhir masa PACU GAMAK Inaq amaq ku Semeton jarin ku pade Ndek narak ite Gen kekel lek dunie Dakaq te sugi Dakakte bangse mulie Ndeq narak gune Mun ndek narak agame Pacu Gamakne Ngaji sembahyang pause Mudahan gamak Te pade tame sorge  Terjemah Ibunda Ayahanda Serta semua saudara Tak ada diantara kita Yang akan kekal di atas dunia Walaupun kaya raya Walaupun menjadi bangsawan mulia Itu semua tak berguna Jika tak memiliki ilmu agama Rajin-rajinlah semua Mengaji, Shalat, dan berpuasa Semoga kita Masuk sorga bersama-sama Ada pelajaran penting dari proses kreatif  Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, melahirkan lagu-lagu berbahasa Sasak. Generasi penerus serta murid-muridnya, harus pandai menempatkan diri memantapkan strategi dakwah di manapun ia berada. Pemilihan konten bermuatan lokal sebagai strategi dakwah, adalah cara-cara cerdas yang harus ditiru dan dimodifikasi sesuai zamannya. Artinya, di zaman teknologi seperti saat ini, generasi Nahdlatul Wathan harus pandai bersikap, berkreasi, dan berkarya. Penulisan lagu berbahasa Sasak saat di mana bahasa komunikasi penting di masa itu adalah bahasa Sasak, menjadi semacam kepekaan berdakwah. Peka dalam arti paham kondisi, mengerti cara menempatkan diri, serta bisa melakukan inovasi. Jangan justru secara ekstrim melawan arus dalam menjalankan dakwah. Hasilnya pasti tidak maksimal.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sapwan/lagu-berbahasa-lokal-sebagai-modal-dakwah-maulana-syaikh-tgkhm-zainuddin-abdul-madjid_58c0947ac2afbde944191452

LEAVE A REPLY