Komandan Densus 99 Sebut TGB Harus Dibela

0

Hamzanwadi Institute Badrun AM (dua dari kiri) berbincang dengan Komandan Densus 99 GP Ansor Nurruzaman (dua dari kanan) terkait serangan pada TGB HM Zainul Majdi di dunia maya, (16/7)

Kabarlombok.com – JAKARTA
Serangan masif terhadap TGB HM Zainul Majdi di dunia maya direspon cepat. Perwakilan dari Hamzanwadi Institute bersama pakar komunikasi NTB silaturahmi ke GP Ansor, (16/7).

“Banyak hal yang ingin kami bahas. Salah satu diantaranya mungkin mulai masifnya kelompok di dunia maya menyerang TGB,” kata perwakilan Hamzanwadi Institut Badrun AM.

Disebutkan, sebagian besar jamaah tidak menerima serangan di medsos itu. Akibatnya tentu saja, perdebatan kian meruncing di medsos.

“Padahal sebelumnya itu mendukung dan merasa bagian dari TGB,” sambungnya.

Badrun menyebut, GP Ansor dinilai cukup berpengalaman menghadapi serangan di dunia maya. Tips dan cara menyikapi bisa dipelajari.

“Ya, kami ingin dibagi lah cara-caranya Ansor selama ini,” imbuhnya

Komandan Densus 99 GP Ansor Nurruzaman bersama jajaran yang menerima tamu asal NTB, merespon positif sharing pengalaman yang dilakukan di GP Ansor. Diakuinya, usai pernyataan TGB mengenai larangan menyongsong Pilpres 2019 menggunakan ayat-ayat perang, membuat beberapa kelompok terusik.

“Ya, itu saya pantau. Memang intensitas serangan di medsos meningkat,” kata pria yang akrab disapa Gus Zaman ini.

Disebut, pembelaan yang dilakukan jamaah pada TGB, sama seperti yang juga dilakukan ketika kiai Nahdlatul Ulama diserang. Seperti yang baru-baru ini dialami Katib Amm PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

“TGB itu Nahdlatul Wathan, seperti NU. Kita sama, tak akan terima bila ulama dihina,” imbuhnya.

Gus Zaman menegaskan, serangan terhadap TGB memang harus disikapi, namun harus dengan cara yang tepat.

“Jangan diam saja, bertahan terus. Harus ada treatment juga, kita siap bantu,” ujarnya sembari menunjukkan data cyber mengenai serangan ke TGB.

Pakar Komunikasi NTB Dr Kadri M Saleh menyebut, penyampaian TGB sesungguhnya sedang mengingatkan semua pihak, politik itu adalah soal adu gagasan dan ide. Kontestasi menuju pilpres bukanlah peperangan antara anak bangsa.

“Secara konteks, saya melihat ini justru upaya menyatukan masyarakat Indonesia. Bukan malah dianggap memecah bangsa,” kata akademisi UIN Mataram ini.

Kadri menyebut, bila pola-pola mempolitisasi agama dibiarkan, itu bisa menghantarkan Indonesia pada perpecahan. Muncul kelompok yang merasa lebih baik dari yang lain.

“Pembelahan itu kita rasakan.Sampai membuat masyarakat awam mulai ikut menghina ulama, serangan untuk TGB ini harus dihentikan,” tandasnya. (gf)

LEAVE A REPLY