Jero Acan, Si Ahli Terasi Higienis dan Sehat dari Jerowaru

0

JEROWARU, – Fauziah, salah satu anggota kelompok usaha bersama terasi Jero Acan, tampak sibuk. Ia mondar mandir dari tempatnya membuat terasi menuju beranda, melayani pembeli, mengemas barang, lalu kembali menyelesaikan pembuatan terasi yang sempat ia tinggalkan.

“Alhamdulilllah, sekarang ini mulai banyak yang datang langsung ke rumah memesan terasi olahan kelompok kami,” terangnya sembari mengucap syukur.

Kelompok pembuatan terasi Jero Acan ini berada di Dusun Jor, Desa Jerowaru, Lombok Timur. Daerah ini memang dikenal sebagai daerah pembuat terasi. Memasuki dusun ini kita langsung diperlihatkan dengan deretan jemuran udang rebon dan terasi pada hampir setiap depan rumah penduduk di pinggir jalan. Juga plang berjejer berisi informasi penyediaan dan pembelian udang sebagai bahan pembuat terasi.

Namun ada yang berbeda dengan rumahnya. Di sini tidak akan kita temukan penjemuran tradisional—menjemur di tempat terbuka dan langsung terpapar sinar matahari.

“Kami memang beli udang kering, sedangkan penjemuran terasi kami lakukan di ‘rumah jemur’,” teranng Fauziah.

Ibu dua anak ini sangat bersemangat menceritakan usaha kelompoknya. Pasalnya, terasi yang kelompoknya produksi adalah terasi higienis, sehat, dan berkualitas. Lalu apa yang membuat terasi Jero Acan ini seperti itu?

Produksi terasi i-pad hingga terasi bubuk rempah

“Ada pembeli yang datang dan meminta untuk dibuatkan terasi bentuk tipis. Lalu mereka menamakannya terasi i-pad,” ceritanya, sambil tertawa.

Terasi i-pad ini salah satu ragam terasi batang yang diproduksi kelompok Jero Acan. Selain terasi batang (yang dibuat dalam ragam lain seperti dadu, batang tebal, sampai yang bundar), kelompok juga membuat jenis bubuk.

“Jenis bubuk ini kami buat dalam dua rasa: original dan rasa rempah,” terang Fauziah.

Terasi bubuk ini boleh dikatakan adalah inovasi baru yang dibuat oleh kelompok setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan.

“Awalnya tidak pernah terpikirkan sama sekali memproduksi terasi bubuk ini. Tetapi setelah kami produksi baru-baru ini ternyata banyak yang tertarik dan memesan,” kata Fauziah.

Fauziah menambahkan, terasi bubuk ini bisa untuk sayur santan, tumis, sup, ditabur seperti penyedap rasa. Terasi rasa rempah sendiri komposisinya berupa lada, cabe, dan aneka rempah lainnya. Sehingga aromanya pun menjadi khas, aroma tajam udang menjadi samar.

“Kelebihan jenis bubuk rempah ini, orang tidak susah cari bumbu,” ungkapnya.

Hanya saja, proses pembuatan terasi bubuk ini sedikit lebih panjang dibanding terasi batang. Karena seusai terasi dikeringkan, ada proses berikutnya berupa pengopenan.

Ia mengatakan, kelompoknya akan terus berupaya membuat inovasi-inovasi jenis dan rasa terasi yang mereka produksi.

Rumah jemur, bagian penting penjamin higienitas

Rumahnya sebagai tempat produksi terasi Jero Acan dengan rumah jemur hanya dipisahkan oleh gang jalan dusun. Luasnya lebih dari satu are. Berpagar bambu dan halaman dalamnya ditumbuhi sulur tanaman dan dua pohon jeruk.

“Dulu area ini jadi tempat menjemur terasi oleh anggota kelompok. Namun sekarang Rumah Jemur pengganti yang baru didirikan hanya mengambil kurang lebih sepertiga dari luas lahan,” terang Yazid Sururi, pendamping kelompok Jero Acan ini.

Rumah Jemur itu berupa rumah berdinding acrylic tembus pandang, berdiri setinggi kurang lebih tiga meter dan luas 2×4 meter. Kita bisa melihat dengan jelas ada tiga susunan para-para dari bambu tipis di dua sisi, dan di tengah-tengah ada lorong kecil tempat penjemur dapat mengatur proses penjemuran.

Yazid menambahkan, rumah penjemuran ini tujuannya untuk memastikan produksi terasi itu berlangsung higienis, tidak terkena debu.

“Terasi jadi bersih dan berkualitas,” jelas Fauziah.

Selain itu, rumah jemur ini juga membuat durasi pengeringan lebih cepat dari menjemur di daerah terbuka. Terasi yang sudah melalui proses penyortiran, penyiraman air garam, perendaman satu malam, lalu pencetakan ini, kemudian dimasukkan ke dalam ‘rumah jemur’.

“Dan kita tidak perlu khawatir lagi kalau ada hujan,” tambahnya.

Rumah jemur ini juga menjadi penanda bagi pembeli yang ingin datang membeli terasi Jero Acan.

“Tinggal menyebut letak rumah jemur, orang-orang yang ingin membeli langsung ketemu,” katanya.

Perlu memberi edukasi kepada konsumen

Fauziah menjelaskan, masih ada warga di Dusun Jor yang menambah pewarna dan pengawet pada terasi yang mereka produksi. “Mereka menambah pewarna agar terasi berwarna merah. Sebab para pembeli di pasar biasanya tidak mau beli jika terasinya tidak berwarna merah,” tuturnya.

Padahal, menurut Yazid, terasi yang baik itu tidak harus berwarna merah.

“Di sinilah kita perlu memberi edukasi kepada konsumen,” terang Yazid.

Fauziah juga mengatakan, justru terasi yang diberi pewarna, dalam waktu lama ia akan berubah rasa menjadi pahit. Kelompok Jero Acan akan tetap mempertahankan produksi terasi yang higienis, bersih, sehat, dan berkualitas.

“Sesuai dengan nama kelompok kami, Jero Acan. Jero bisa berarti nama desa Jerowaru, bisa juga berarti ‘ahli’. Sedangkan Acan sendiri artinya terasi. Jadi kami ingin jadi ahli terasi yang higienis dan sehat,” kata Fauziah.

Bahan baku yang masih sulit, dan penjualan yang harus ditingkatkan

Produksi terasi oleh kelompok Jero Acan tiap hari bisa menghabiskan bahan berupa udang rebon sampai 50 kg. Terasi yang dihasilkan juga bisa 500 sampai 1000 biji.

“Biasa produksi terasi habis dalam satu minggu,” kata Fauziah.

Namun demikian, bahan baku masih relatif sulit didapatkan.

“Di sini tidak tersedia banyak udang. Kalau pun ada, harganya mahal. Bisa sampai 50an ribu per kilo. Kami membelinya di satu gudang pengepul di Selagalas daerah Bertais yang mendatangkan udang dari Kalimantan dan Sumbawa,” kata Fauziah.

Udang rebon di daerah sendiri tidak selalu tersedia setiap saat. Dan kalau pun ada harganya relatif mahal. Anggota kelompok sedang berupaya mencari bahan baku dari daerah terdekat.

Sampai saat ini, terasi Jero Acan tidak dijual langsung di pasar. Tetapi pedagang dari daerah dan sekitar pasar yang langsung datang mengambil.

“Pembeli langsung datang membeli ke rumah, ada juga yang dijual via online. Sehari kadang-kadang empat sampai lima pembeli,” katanya lagi.

Jumlah transaksi per hari terbilang besar bagi kelompok.

“Kami bisa dapatkan sampai satu juta satu hari,” pungkas Fauziah.

Yang lebih laris penjualan secara langsung. Pembelinya datang dari berbagai daerah, cuma memang sementara ini pembeli dominan dari daerah sekitar desa untuk dijual di pasar.(red)

LEAVE A REPLY