Hamzanwadi, Menapak Jalan Tinggi, Membangun Elevasi

0

Oleh; Hariyono

”Mengigat kesenjangan yang begitu jauh antara cita-cita para pendiri negara dengan kenyataan yang kini kita saksikan, maka bangsa Indonesia memerlukan adanya suatu momen historis, dalam bentuk penyelenggaraan pemerintahan dan penggunaan kekuasaan yang dengan sungguh-sungguh diwujudkan secara konsisten dengan cita-cita pendiri negara. Sebab, betapapun harus diakui dan dihargai, bahwa para pendiri negara kita telah meletakkan fondasi yang kokoh untuk dibangunnya pikiran-pikiran terbaik mengenai bangsa dan negara. Momen historis itu diharapkan dapat menjadi rujukan generasi berikutnya dalam pembangunan bangsa dan negar

Pengalaman penulis bertemu dengan Tuan Guru Kyai Haji Mohammad Zainuddin Abdul Madjid pada akhir tahun 1995 di kamar pribadinya cukup membekas. Sambil tiduran, beliau banyak bercerita tentang masyarakat Lombok dan perkembangan STKIP Hamzawadi. Dalam usianya yang sudah lanjut dan kondisi fisik yang tidak prima lagi, ingatan beliau tentang sejarah dan masyarakat masih sangat bagus. Hal tersebut membuktikan bahwa pengalaman hidup dan wawasan pengetahuannya sangat luas dan mendalam.

Pada mulanya penulis diundang ke STKIP Hamzanwadi untuk membahas buku saya ”Mempelajari Sejarah Secara Efektif” yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Dari hasil pandangan sekilas tentang lingkungan kampus dan pondok pesantren serta ngobrol dengan rekan-rekan dosen STKIP Hamzanwadi, menurut saya pendiri dan pengurus yayasan tidak mencari rezeki lewat pesantren dan kampus yang didirikan. Pesantren dan kampus jelas dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat. Saya sangat bersyukur, ada pengurus STKIP Hamzawadi yang mengajak saya bertemu dengan Tuan Guru sehingga memiliki kenangan yang tidak dapat dilupakan.

Melihat perjalanan hidup Muhammad Saggaf yang kemudian lebih dikenal Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (1904-1997) penulis jadi teringat konsep yang dikenalkan oleh Daniel Goleman dalam bukunya ”Social Intelligence”. Menurut penulis ada dua konsep yang layak dikaitkan dengan perjalanan hidup ”Tuan Guru Pancor” yang juga sering dipanggil ”Maulana asy-Syaikh”, yaitu ”jalan tinggi” (high road) dan ”elevasi” (elevation). Untuk itu, dalam tulisan ini –sesuai dengan permintaan panitia—dalam membahas kiprah perjuangan Tuan Guru akan dilihat sekilas tentang perjalanan hidupnya yang jelas memilih ”jalan tinggi”[1], jalan metodis yang rasional sekaligus visioner. Dan melalui pilihan hidup tersebut beliau berhasil memberikan contoh kehidupan positif yang kemudian banyak ditiru orang lain dan para murid-muridnya, suatu aktivitas kehidupan yang oleh Goleman disebut elevasi. ”Elevation is the state reported repeatedly when people tell how they felt on seeing a spontaneous act of courage, tolerance, or compassion. Most people find themselves moved, even thrilled[2].

Perjalanan hidup Tuanku Guru Zainuddin cukup memberikan gambaran pilihan jalan hidup yang tinggi. Suatu kehidupan yang berkelindan dengan logika dan moralitas. Demikian pula aktivitasnya banyak menjadi teladan dan rujukan para murid dan masyarakat di Lombok. Untuk itu, dalam tulisan ini penulis ingin menbahas sekilas kehidupan pribadi Tuanku Guru sebelum mengulasnya sebagai suatu aktivitas yang banyak menimbulkan elevasi serta peluang mengkaitkannya dengan visi kehidupan berbangsa dan bernegara dengan agama di Indonesia.

Masa Kecil

Sebagaimana anak kecil di zamannya, kelahiran Mohammad Sagaf dilalui dengan cara yang tradisional. Bayi yang terlahir dari rahim ibu Inaq Syam alias Hajah Halaaimatussa’diyah pada tanggal 17 Rabiul Awal ini sudah disayang sejak dalam kandungan. Sebagai anak yang lahir dari keluarga yang cukup berada di daerahnya, Moh. Saggaf relatif beruntung. Orangtuanya yang tidak disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dapat memilihkan sekolah yang memadai buat perkembangan pribadinya[3].

Mohammad Saggaf tidak mengalami sindrome ”cinta yang tertunda” (love withheld)[4]. Kasih sayang ayah dan ibunya cukup luar biasa. Bahkan untuk menuntut ilmu, sang ayah rela mengorbankan materi yang cukup besar agar sang anak dapat memperoleh ilmu sebagai suatu asupan pengetahuan dan rohani yang luar biasa. Kondisi ini membawa perkembangan konsep diri yang positif sehingga yang bersangkutan mampu berpikir dan berjiwa besar.

Selain mendapat didikan langsung dari ayahnya, Mohammad Saggaf –yang biasa dipanggil Segep dalam bahasa Sasak– juga dikirimkan untuk belajar di Sekolah Rakyat Negara yang pada saat itu sering disebut sebagai Sekolah Gubernemen. Selama empat tahun dia belajar si sekolah tersebut, sehingga memiliki wawasan dan pengetahuan yang berbasis pada ilmu pengetahuan umum yang cukup di zamannya.

Setelah lulus dari Sekolah Gubernemen, oleh ayahnya dikirimkan ke beberapa ulama setempat (di Lombok Timur) untuk belajar pelbagai ilmu agama. Pelajaran bahasa Arab sudah dikenal sehingga bisa membaca kitab-kitab Arab Melayu. Pola pembelajaran yang dilakukan secara sederhana, yaitu dengan pola sorogan melatih yang bersangkutan untuk sabar sekaligus fokus mendengarkan suara gurunya. Pembelajaran yang diperoleh dari beberapa guru memungkinkan yang bersangkutan memiliki perspektif yang lebih terbuka sehingga tidak mudah alergi dengan perbedaan[5]. Kondisi tersebut ikut memberi pengaruh terhadap cara pandangnya yang inklusif sehingga dirinya dan lembaga yang didirikan dapat eksis dalam pelbagai keadaan. Karya besarnya tidak menimbulkan kegaduhan dan resistensi yang berarti dari masyarakat Lombok, termasuk dari mereka yang bukan berasal dari suku Sasak dan beragama Islam.

Masa Mengembara

Sebagai anak yang diharapkan dapat menjadi ulama besar, sang ayah berusaha membekali Mohammad Saggaf dengan ilmu sekaligus pengalaman hidup yang relevan. Sejak usia 15 tahun yang bersangkutan diajak pergi ke Mekah, tepatnya pada tahun 1923 M dengan diantar langsung oleh oleh kedua orangtuanya serta tiga orang adik dan keponakannya. Ayahnya berusaha mencari guru sendiri di sekitar Masjid Al-Haram. Dan kemudian menemukan sosok Syaikh Marzuki yang dipercaya sebagai guru bagi Muhammad Saggaf pertama kali di Mekah. Sesuatu yang sebenarnya memberi pengalaman unik bagi Mohammad Saggaf, karena selama belajar dia tidak mengerti apa yang dipelajari atau dibahas oleh Kyainya. Saat itu beliau belum menguasai dengan baik ilmu nahwu-sharaf. Akibatnya dia sempat di-bully oleh kawannya.[6]

Setelah ayahnya pulang ke Lombok dia mengundurkan diri sebagai murid Syaikh Marzuki dengan alasan suasana belajar kurang cocok bagi dirinya. Pada saat itu kemudian disusul oleh gesekan politik aliran keagamaan yang dipicu oleh faksi Wahabi sehingga proses pembelajaran di pelbagai tempat menjadi terhenti. Muhammad Saggaf kemudian belajar si Madrasah ash-Shaulatiyah. Di lembaga pendidikan tersebut sebenarnya dia sebagai ”thullab” (peserta didik) sudah dapat masuk kelas 3 tetapi dia memilih masuk kelas 2 dengan harapan dapat mempelajari dasar ilmu Nahwu-Sharaf dengan lebih mendasar[7].

Keputusan dan keseriusannya membuahkan hasil, setelah belajar di kelas dua dia langsung naik kelas 4 dan tahun berikutnya naik ke kelas 6, 7, 8 dan 9. Kelas 3 dan 5 tidak diikuti karena oleh pihak sekolah dianggap sudah lebih dari cukup. Sehingga Muhammad Saggah lompat kelas dua kali. Suatu prestasi yang hanya dapat dicapai oleh ”thalib”(peserta didik) yang serius, rajin dan cerdas.

Muhammad Saggaf telah belajar dari pelbagai guru (sekitar 27 guru) selama di Arab[8] sehingga yang bersangkutan banyak belajar tentang ilmu serta kepribadian sang gurunya. Guru yang paling dikagumi dan memiliki hubungan emosional yang kuat adalah Maulana asy-Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath. Pengalaman hidup di negeri seberang dan berinteraksi dengan beragam orang memberikan pengalaman untuk melihat ulang, reorientasi, kehidupan kampung dan bangsanya menjadi berbeda.

Berbakti pada Kampung dan Negeri

Sekembali dari Arab Saudi, Mohamad Zainuddin, segera berusaha mendirikan pendidikan pesantren Al-Mujahidin yang dapat bermanfaat bagi masyarakat dan mengadakan pengajian umum. Kemudan mendirikan lembaga pendidikan yang cukup fenomenal di zamannya dan terus berkembang sampai sekarang, yaitu Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah di tahun1937 dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah di tahun 1943. Pada tahun 1977 mendirikan Universitas HAMZANWADI, yang disusul dengan STKIP HAMZANWADI ditahun 1978 dan lembaga pendidikan lainnya, misal STIH Hamzanwadi, STID HAMZANWADI dll.

Upayanya membentuk organisasi serta lembaga pendidikan mencerminkan sikap dan komitmennya untuk meningkatkan sumberdaya manusia Lombok khususnya dan Indonesia pada umumnya tidak perlu diragukan. Usahanya untuk merubah pola dan strategi pembelajaran agama yang sebelumnya berlangsung secara tradisional, halaqah, dengan sistem semi klasikal (sebelum menjadi klasikal murni) merupakan terobosan yang menarik dan tidak mudah di zamannya[9].Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki bukan sekedar untuk mendiskripsikan realitas, melainkan lebih dari itu adalah untuk melakukan perubahan, transformasi masyarakatnya. Tuanku Guru telah melakukan ”liberasi”, pembebasan masyarakatnya dari tradisi dan rutinitas yang menghambat proses belajar.

Demikian pula terobosannya dalam mengenalkan pengetahuan umum dan pendidikan vokasi pada masyarakat Lombok untuk belajar Pertanian dan Peternakan cukup riil dalam mengubah cara pandang masyarakat Lombok. Kehidupan yang berbasis pengetahuan sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari menjadi suatu keniscayaan dalam kehidupan masyarakat modern. Stigma bahwa ulama hanya sibuk dengan bahasa dan simbol-simbol dunia langit dipatahkan dengan usahanya untuk memperkenalkan pengetahuan dan ketrampilan hidup yang memungkinkan generasi muda Lombok dapat hidup secara bermartabat dalam mensiasati kehidupan modern.

Demikian pula dalam aktivitas politik yang pernah melibatkan dirinya, menunjukkan bahwa beliau adalah sosok pribadi yang ingin memadukan antara kerja riil yang dilandasi oleh wacana yang kuat dengan siertai kebijakan yang tepat. Untuk itulah selain aktif dalam bidang pendidikan dan dakwah juga aktif dalam kehidupan politik. Kiprahnya di partai Masyumi yang sempat mengantarkannya sebagai anggota konstituante dan kiprahnya di partai GOLKAR yang sempat mengantarnya terlibat dalam politik senayan memungkinkan ikut mempengaruhi kebijakan politik yang sesuai dengan visi dan misi hidupnya. Pada saat yang bersamaan memungkinkan dirinya membangun jejaring yang diperlukan bagi lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan agar berkembang lebih maksimal. Pada saat ikut mempengaruhi kebijakan politik mendekati nilai-nilai ideal yang diharapkan tentu tidak semua berjalan maksimal. Beliau menyadari adanya ”situasi batas” yang tidak selalu kondusif untuk merealisasi cita-citanya, tanpa harus memaksakan kehendak.

Kiprah kehidupan yang dijalani tersebut relatif berjalan baikberkat sikapnya yang tidak reaksioner dan konfrontatif dalam menyikapi permasalahan yang ada. Tradisi masyarakat Sasak yang dirasa menghambat kemajuan tidak diserang secara frontal, melainkan diberikan alternatif pilihan dan solusi. Berbasis moralitas yang dilandasi oleh wawasan yang luas, Tuan Guru Zainuddin selain merujuk pada Al-Quran, As-Sunnah, juga meruju nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal sehingga memungkinkan dapat diterima oleh pelbagai kalangan. Berbasis pada pemikiran besar itulah, Tuanku Guru K.H. M. Zainuddin Abdul Madjid dapat berpkiprah yang memberikan efek besar dan layak menjadi orang besar. Tuanku Guru menonjolkan keberanian moral dibanding keberanian fisik.

Baginya dimensi moralitas (al-akhlak al karimah) merupakan pijakan untuk menjadi pemimpin yang baik. Perjuangannya yang berbasis dari realitas sosial yang melingkunginya membuat dirinya tidak mudah hijrah dalam perjuangan alternatif langit absolut yang sekedar bercorak keagamaan[10]. Perjuangan Tuan Guru mampu membumi dan menyentuh problem riil yang dihadapi oleh masyarakatnya dengan terus merujuk pada etika moral yang diyakininya.Menurutnya, politikus yang tidak memiliki moralitas kuat akan menjadi licik dan berjiwa basi[11]. Berkat ”jalan tinggi” yang dipilihnya tersebut, menempatkan almarhum dapat menjadi teladan bagi para santri dan orang-orang dekatnya[12].

Demikian pula dalam mengubah strategi pembelajaran tidak langsung melompat ke klasikal, melainkan pada langkah semi-klasikal memberikan ruang bagi mereka yang telah lama dalam kenyamanan dengan sistem lama tidak terlalu memberikan resistensi yang berlebihan. Banyak diantara mereka yang justru simpati dan mau menirunya. Ketekunan dalam belajar dan mengelola organisasi di tengah-tengah masyarakat Lombok, menjadi suatu energi, yang memungkinkan proses ”elevasi” terjadi. Konsekuensinya, tanpa hiruk pikuk yang penuh kegaduhan, terjadi proses transformasi kehidupan masyarakat Lombok menjadi lebih baik dan relatif siap menghadapi tantangan dan perubahan zaman. Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mampu melakukan ”transendensi budaya” Lombok tanpa menimbulkan gegar budaya yang berarti[13].

Dari praksis kehidupan Tuan Guru jelas bahwa politik tidak hanya bisa didasarkan pada budaya politik. Dalam berpolitik diperlukan moralitas politik. Kita perlu kritis dan konsisten dengan sikap dan tingkah laku politik yang dijalankan. Masyarakat tidak hanya mendengar ucapan, pidato dan wejangan dari pemimpinnya. Rakyat justru lebih percaya dengan penglihatannya dibanding pendengaranya. Apa yang dilakukan oleh pemimpinnya lebih cepat dipercaya dan ditiru dibanding sekedar pidatonya. Keteladanan dalam masyarakat yang masih relatif tradisional dan komunal sangat diperlukan. Tuan Guru Zainuddin berhasil menjalankannya. Kharisma yang dimiliki bukan sekedar warisan dari generasi sebelumnya, melainkan sebuah kharisma murni yang diperoleh berkat perjuangan dan pengabdiannya.

Sikap dan perilaku politik keagamaan (religius) Tuan Guru sudah dalam tataran aksi moral dan sosial dari keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Meminjam ungkapan Bung Hatta bahwa ”Ketuhanan Yang Maha Esa tidak lagi hanya hormat menghormati agama masing-masing, melainkan menjadi dasar yang memimpin ke jalan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran dan persaudaraan[14]. Dalam konteks itulah kiprahnya juga menghargai nilai-nilai kebajikan yang bersifat universal.

Kiprah dan perjalanan hidup Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tersebut menarik dilihat dari perspektif ideologi kebangsaan. Aktualisasi diri dalam menjalankan kehidupannya di pentas daerah dan nasional merupakan aktualisasi dari ideologi (working ideology) yang dianutnya. Toleransi terhadap perbedaan yang didasarkan pada moralitas serta kepeloporannya dalam mendirikan organisasi serta lembaga pendidikan dapat menjadi sumber inspirasi dalam memahami aransemen kehidupan politik bangsa Indonesia yang sering diwarnai oleh tarik menarik antara praksis dan relasi negara dan agama.

Negara dan Agama

Perdebatan tentang posisi agama dan negara kebangsaan sudah lama menjadi perdebatan di kalangan pemikir kenegaraan maupun politik, khususnya sejak para ahli mengkaitkannya dengan pengalaman Barat di Abad Pertengahan. Peran agama yang begitu dominan menciptakan kesadaran ”providensia” ternyata banyak menimbulkan distorsi dan manipulasi nilai-nilai keilahian. Mereka berusaha memisahkan agama dan negara, sehingga muncul istilah negara sekuler dan negara agama. Pada satu sisi masyarakat di Asia dan Afrika memiliki sejarah serta pengalaman sejarah (termasuk rujukan sejarah) yang berbeda dengan masyarakat Barat. Warisan spiritual dan pengalaman sejarah tersebut memberikan perspesi yang berbeda.

Konsekuensi dari dinamika tersebut muncullah dua kecenderungan tentang konsepsi negara dan agama. Pertama, adalah negara sekularistik yang menempatkan agama di luar urusan negara. Negara tidak berkewajiban memperhatikan pendapat agama-agama yang diyakini oleh masyarakatnya. Agama agama yang ada sebagai ”harta warisan kerohanian” tidak dimasukkan sebagai bagian dari wawasan kesejahteraan umum yang perlu dilindungi dan dikembangkan oleh negara. Kedua, negara agama yang dalam tata kelolanya didasarkan pada hukum agama. Ironisnya agama di dunia ini tidak tunggal, sehingga negara agama selalu memposisikan kuasanya agama yang satu terhadap agama yang lain. Konsekueni dari hal tersebut menyebabkan diskriminasi karena kedudukan semua orang dan golongan diperlakukan berbeda oleh negara[15]. Padahal agama dan kepercayaan merupakan salah satu unsur yang diakui sebagai martabat manusia sekaligus hak asasi manusia. Di samping itu negara agama juga kurang menghargai relasi manusia dengan Tuhan yang didasarkan pada ”hati yang suci”, keikhlasan atau sikap batin yang dalam yargon Nahdlatul Wathan disebut Iman dan Taqwa. Untuk itu tuntunan agama yang didasarkan pada ancaman hukum berupa sanksi dari negara dapat menimbulkan kesadaran semu dan menggeser ”landasan nilai sepiritual agama”. Sanksi hukum yang dijalankan negara potensial menggerogoti dimensi spiritualitas dan ketulusan hati. Akibatnya cenderung melahirkan sikap munafik pada umatnya[16].

Dalam sejarah bangsa Indonesia relasi negara dan agama juga menjadi salah satu aspek yang diperbincangkan dan diperjuangkan para pendiri bangsa. Sejak masa pergerakan nasional, baik secara perorangan maupun partai politik, landasan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berbasis pada demokrasi Barat atau Timur, Agama atau sekuler ikut mewarnai gerak pemikiran dan perjuangan mereka. Konstruksi demokrasi yang digagas oleh para pendiri bangsa berusaha menempatkan dimensi politik dan ekonomi serta kebudayaan tidak terpisah[17]. Demikian pula pada saat sidang BPUKI tarik menarik pemikiran diantara angota-anggotanya dalam memberikan jawaban ketua sidang tentang ”Apa dasar Negara Indonesia yang akan kita bentuk ini?”[18]Yang menonjol adalah pemikiran untuk menjari dasar negara yang sekuler dan dasar negara agama. Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni, menurut Bung Hatta mampu memberikan ”uraian yang bersifat kompromis, dapat meneduhkan pertentangan yang mulai tajam antara pendapat yang mempertahankan Negara Islam dan mereka yang menghendaki dasar negara sekuler, bebas dari corak agama[19].

Melalui proses perumusan yang berlangsung dinamis dan penuh argumentatif, Pancasila akhirnya menjadi kesepakatan bangsa Indonesia sebagai suatu ideologi negara.Pancasila menjadi roh progresif nasionalisme Indonesia[20]. Perubahan sistematika, terutama Ketuhanan dari posisi pengunci ke posisi pembuka tidak hanya mampu menciptakan rekonsialiasi dua kecenderungan pemikiran melainkan juga memberikan landasan substantif yang lebih kokoh. Menurut Bung Hatta, perubahan posisi Ketuhanan dari pengunci ke pembuka ”ideologi negara tidak berubah karenanya, melainkan negara dengan ini memperkokoh fundamennya, negara dan politik negara mendapat dasar moral yang kuat”[21]

Kondisi tersebut memungkinkan dikembangkannya ”toleransi kembar” antara negara dan agama. Yudhi Latief, dengan mengutip pendapat Stepan dari tulisannya ”Religion, Democracy, and the Twin Tolerations” menjelaskan dengan bagus bahwa ”Negara dan agama bisa mengembangkan peran publiknya masing-masing tanpa saling memaksa, karena menemukan konteks keterlibatannya yang tepat.Diferensiasi agama dari domain kekuasaan negara tidak melucuti seluruh pengaruh agama dalam ruang publik. Pengaruh agama dalam ruang publik bahkan politik tetap bisa berlangsung ketika negara dan agama berbeda secara institusional[22]. Kalangan agamawan dapat memberikan inspirasi secara substansial yang tidak semata didasarkan pada doktrin yang diambil secara literal melainkan juga didasarkan pada fakta serta penjelasan yang rasional dan imparsial. Dalam konteks yang semacam ini, gagasan Sartono Kartodirdjo untuk mempertemukan konsep ”daulat Tuhan” dengan ”daulat rakyat” dalam ”teo-demokrasi” memiliki relevansi[23].

Dalam konteks perjalanan bangsa dasar negara Pancasila juga sempat menjadi suatu perdebatan yang krusial dan mengalami kebuntuan dalam sidang konstituante sehingga menjadi alasan dikeluarkannya dekrit Presiden 5 juli 1959[24]. Pada saat itu Tuanku Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menjadi salah satu anggotanya dari fraksi Masyumi.

Uniknya, melihat kiprah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, agama dan negara tidak dipahami sebagai suatu ”dualisme” yang saling menegasi dan kontradiksi. Agama dan negara dipahami sebagai suatu ”dualitas” yang saling berelasi, bermediasi dan melengkapi. Nama organisasi perjuangan yang didirikan sejak 22 Agustus tahun 1937, yaitu Nahdlatul Wathan, yang kini menjadi salah satu ”brand” Islam di Indonesia memiliki dua makna filosofis yang menyatu, yaitu membangun agama dan negara. ”Artinya, agama dan negara diposisikan sama dalam suatu tarikan nafas, yakni membangun agama berarti juga membangun negara, begitu juga sebaliknya[25].

Untuk menserasikan nilai dan kepentingan negara dan agama itulah Tuanku Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak setuju penggunaan simbol-simbol agama untuk kepentingan politik aliran, selain menghilangkan dimensi substansi spiritualitas keagamaan juga dapat menjadi lahan opportunisme politik. Dalam salah satu tulisannya di buku ”Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru ”disebutkan;

Ajibnya terkadang di partai Islam

Berpura-pura membela Islam

Aktif keliling siang dan malam

Membela diri melupakan Islam

 

Memang banyak si model begitu

Diputar oleh Makhluk tertentu

Akhirnya buta tuli dan bisu

Ingantannya hanya perut dan bangku

 

Inilah model insan sekarang

Rupanya tetaplah ulasan orang

Bangkahulu bukan Semarang

Lain dahulu lain sekarang[26]

Catatan Akhir

Perjalanan hidup Tuanku Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan salah satu kisah terbaik dari anak – anak Indonesia.Memang kita semua menyadari bahwa beliau adalah manusia biasa, yang tentu selain memiliki kelebihan juga memiliki kekurangan. Namun dalam konteks pembelajaran, atau apa yang sering disebut dengan ”prognosifikasi”, yaitu mempelajari masa lalu untuk kehidupan masa depan, perjalanan hidup dan perjuangannya dapat menjadi topik sekaligus teladan kehidupan yang positif. Kita tidak hanya dapat mengenal apa yang baik secara moral, tetapi juga dapat melihat bagaimana Tuan Guru dapat menjembatani etika moral yang baik dpat menjadi tindakan nyata.

Kisah kehidupannya dapat menjadi salah satu teladan bagi masyarakat pada umumnya dan elit politik pada khususnya. Proses menuntut ilmu yang dilakukan secara tekun dan serius serta cerdas mampu menjadikan dirinya memiliki ”pilihan jalan tinggi”, jalan luhur yang rasional dan berpijak pada etika moral yang konsisten. Sejak masih muda, Tuan Guru sudah selesai dengan dirinya sendiri sehingga dapat lebih fokus untuk ”berkarya dan memberi” pada orang lain, masyarakat dan negara. Keterlibatannya dalam dunia politik sejak tahun 1950-an dan di era Orde Baru tidak menggodanya terlibat dalam perbuatan yang bernuansa KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme).

Kiprahnya dalam dunia pendidikan, sosial serta pemberdayaan masyarakat, khususnya di Lombok mampu memberikan pencerahan sekaligus pemberdayaan. Pelbagai tindakan positif yang dilakukan secara evolutif dan persuasif , ”elevasi”, memberi peluang untuk ditiru orang lain, khususnya para santrinya. Indikasi dari hal tersebut lembaga dan organisasi Nahdlatul Wathan kini menyebar di pelbagai daerah Nusantara.

Dan yang tidak kalah penting dan lebih signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah pilihan sikap untuk tidak mempertentangkan antara agama dan negara. Pilihan istilah lembaga yang didirikan, yaitu Nahdlatul Wathan, mencerminkan adanya rekonsialisi dimensi negara dan agama dalam satu tarikan nafas, sehingga mereka yang berjuang untuk agama sekaligus memperjuangkan negara dan sebaliknya. Sikap ini sangat relevan untuk dikembangkan bagi bangsa Indonesia yang memiliki latar sejarah, kebudayaan yang multikultural. Energi bangsa tidak lagi habis karena larut dan terseret untuk polemik tentang relasi agama dan negara. Energi anak bangsa dapat diarahkan untuk kerja riil meningkatkan kualitas manusia Indonesia sehingga tidak mudah terpuruk secara sosial ekonomi maupun terseret pada politik dentitas dan atau aliran.

Dengan ”toleransi kembar” yang diaktualisasikan oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, agama dan negara bisa saling menjiwai sehingga Ketuhanan dalam keyakinan agama maupun dalam sila Pancasila dapat terwujud secara subtantif. Sila Ketuhanan yang menjiwai dimensi kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosialmerupakan suatu konsepsi sekaligus energi yang potensial sebagai landasan membangun peradaban bangsa yang gemilang. Energi bangsa dapat difokuskan untuk membangun peradaban bangsa sehingga martabat bangsa Indonesia bisa setara dan bahkan lebih maju dibanding bangsa lain dapat segera diaktualisasikan. SEMOGA

[1] Menurut Goleman, (2007; 16) yang dimaksud The “high road”, runs through neural systems that work more methodically and step by step, with deliberate effort. We are aware of the high road, and it gives us at least some control over our inner life….

[2] Daniel Goleman, 2007. Social Intelligence, The New Science of Human Relationships. London: Arrow Books. Hal. 53.

[3] Pada saat Mohammad Saggaf berguru di pesantren, yang bersangkutan tidak disibukkan untuk ikut membantu mengolah tanah Kyanya karena sang ayah telah memberikan kompensasi yang cukup besar. Demikian pula pada saat Mohammad Saggaf berguru pada Syaikh Marzuki, ayahnya sempat memberikan beberapa ringgit emas sebagai rasa syukur. Mohammad Noor, Moslihan Habib dan Muhammad Harfin Zuhdi, 2014. Visi Kebangsaan Religius; Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid 1904-1997. Jakarta: Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta. Hal 106

[4] Anak yang merasa kurang dicintai oleh keluarga akan merasa tidak aman dan tidak tenteram. Mereka cenderung memiliki konsep diri yang kurang positif dan cenderung terbelenggu dalam keyakinan diri yang membatasi (self limiting belief). Lihat Brian Tracy, 2007. Change Your Thinking Change Your Life. Bandung: Kaifa.

[5] Dalam masyarakat tradisional Jawa dikenal istilah “Santri Lelono”, yaitu seorang pemuda atau ksatria yang menuntut ilmu ke pelbagai guru atau kyai, termasuk ilmu “kanoragan”. Sambil mengembara yang bersangkutan menuntut ilmu pada ahlinya sekaligus mengasah ilmu yang dimiliki. Untuk itulah mereka cenderung menjadi sosok jagoan yang ditakuti sekaligus dihormati oleh masyarakat umum. Lihat Ben Anderson. 1988. Revolusi Pemoeda, Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946. Jakarta. Sinar Harapan. Hal. 27. Dalam konteks masyarakat Lombok hal tersebut sangat terkait dengan “ilmu keangohan”, sebuah praktek ilmu kanoragan yang juga dipelajari ayah dan saudaranya Badil. Bahkan pada saat itu di Sasak masih ada tradisi “begebukan” yaitu ajang perkelahian sukarela dengan menggunakan senjata tajam. LihatMohammad Noor, Moslihan Habib dan Muhammad Harfin Zuhdi, 2014. Hal 107 dan 150

[6] Rupanya Muhammad Saggaf menganut mindset dinamis, bukan mindset statis, sehingga walaupun diejek oleh temannya tidak menciptakan self concept negatif pada dirinya. Justru sebaliknya ejekan tersebut memacu semangatnya untuk belajar lebih serius, sehingga waktu belajar di Madrasah Ash-Shaulatiyah mampu menunjukkan prestasi yang sangat bagus. Tentang mindset statis dan dinamis, lihat Carol S. Dweck. 2007. Change Your Mindset Change Your Life; Cara Baru Melihat Dunia dan Hidup Sukses Tak Terhingga. Jakarta: Serambil Ilmu Semesta.

[7] Pilihan ini mengingatkan penulis pada teori-teori belajar yang menekankan penguasaan materi belajar dari yang mudah dan sederhana. Penguasaan ilmu dari dasar memungkinkan seseorang mudah mempelajari materi berikutnya. Dan pada saat yang bersamaan, proses belajar menjadi lebih bermakna, karena secara psikologis tidak mengalami beban psikis yang berlebihan. Konsekuensinya proses “learn, unlearn and relearn” dapat berjalan secara simultan. Kepercayaan diri tersebut dapat meningkaptkan kapabilitas belajar (learning capability) dari yang bersangkutan.

[8] Mohammad Noor, Muslihan Habib & Muhammad Harfin Zuhdi, 2014, hal. 131-132.

[9] Dawam Rahardjo menjelaskan bahwa proses perubahan cara belajar tradisional menjadi modern, termasuk mengenalkan pengetahuan umum diawali oleh terobosan tiga kyai pendiri pondok Gontor, yaitu Kyai Ahmad Sahal, Kyai Imam Zarkasi dan Kyai Zainuddin Fanani tahun 1926. Dan Kyai Ahmad Dahlan dengan lembaga Muhammadiyah yang didirikan tahun 1912 sebenarnya sudah mempelopori pendidikan agama yang dilakukan secara klasikal sekaligus juga mempelajari ilmu pengetahuan umum dan ketrampilan atau vokasi. Lihat. M. Dawam Rahardjo, 1974. Gambaran Pemuda Santri dalam Taufik Abdullah. Pemuda dan Perubahan Sosial. Jakarta. LP3ES. Hal. 90-112.

[10] Konsep ini penulis ambil dari pemikiran Samir Amin yang melakukan dialog dengan Burhan Ghalyun tentang Agama dan Negara. Lihat Samir Amin & Burhan Ghalyun. 2004. Dialog Agama Negara. Yogyakarta: LKiS. Hal. 197.

[11] LihatMohammad Noor, Moslihan Habib & Muhammad Harfin Zuhdi, 2014hal. 220.

[12] Penerbitan kisah hidup dan hasil-hasil pemikirannya secara luas dan mudah diakses oleh public sangat diperlukan agar public mengetahui dan berpotensi untuk meneladaninya, sebagai bagian dari belajar dari orang lain (vicorius learning). Hal ini sangat diperlukan di tengah-tengah masyarakat sulit mencari elit, khususnya elit politik, yang di era sekarang sulit dijadikan teladan berkat integritas, kompetensi serta prestasi yang dihasilkan.

[13] Istilah “transendensi” budaya menurut Cornelis van Peursen merupakan suatu penilaian moril terhadap kebudayaan yang ada untuk diubah melalui pembaharuan agar manusia tidak terkurung oleh “imanensi”, yaitu terkurungnya manusia oleh tradisi yang membeku, baik yang bersifat fisik maupun haya mendasarkan naluri saja. Lihat C.A. van Pursen. 1976. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta-Jakarta: Kanisius-Gunung Mulia. Hal. 16.

[14] Lihat Nina Pane,2015. Mohammad Hatta… hal. 303.

[15] Kekhawatiran ini pernah diungkapkan oleh Latuharhary terhadap sila pertama Pancasila dalam Paiagam Jakarta. Menurutnya dengan pencatuman Kewajiban menjalankan syareat Islam bagi pemeluk-pemeluknya..”akibatnya akan sangat besar sekali, umpama terhadap agama lain. Maka dari itu, saya harap supaya dalam hokum dasar, meskipun ini berlaku buat sementara waktu, dalam hal ini tidak boleh diadakan benih-benih atau kemungkinan yang dapat diartikan dalam rupa-rupa.” Bung Karno menjelaskan bahwa preambule konstitusi tersebut merupakan usaha untuk menghilangkan perselisihan paham antara golongan kebangsaan dan golongan Islam. Lihat Yudi Latief, 2011. Negara Paripurna; Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal 79.

[16] Franz Magnis-Suseno. 1988. Etika Politik, Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: Gramedia. Hal. 355-373

[17] Hariyono. 2013. Arsitektur Demokrasi Indonesia; Gagasan Awal Demokrasi Para Pendiri Bangsa. Malang: Setara Press.

[18] Uraian yang relative detail dan obyektif tentang proses diskusi tentang Dasar Negara dapat dilihat pada buku RM.A.B. Kusuma. 2009. Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945; Memuat Salinan Dokumen Otentik Badan Onetoek Menyelidiki Oesaha2 Persiapan Kemerdekaan. Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

[19] Lihat Nina Pane (ed.) 2015. Mohammad Hatta; Politik, Kebangsaan, Ekonomi (1926-1977). Jakarta: Kompas Media Nusantara. Hal. 309.

[20] Hariyono. 2014. Ideologi Pancasila; Roh Progresif Nasionalisme Indonesia. Malang: Intrans Publishing.

[21] Dalam Yudi Latief, 2014. Hal 78.

[22] Dalam Yudi Latief, 2014. Hal 107-8.

[23] Lihat Sartono Kartodirdjo. 1994. Pembangunan Bangsa; Nasionalisme. Kesadaran dan Kebudayaan Nasional. Yogyakarta: Aditya Media.

[24] Salah satu ulasan yang mendalam bagaimana polemic dan pertarungan dasar Negara Islam dan Pancasila data dilihat dari tulisan Adnan Buyung Nasution 1955. Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia, Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959. Jakarta: Garifi Press. Proses lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang berlangsung secara efektif berkat dukungan Angkatan Darat tersebut tidak dapat dilepaskan dari diterapkannya keadaan bahaya di Indonesia. Lihat Hariyono. 2008. Penerapan Keadaan Bahaya di Indonesia. Jakarta. Pencil 324.

[25] Azyumardi Azra,”Nahdlatul Wathan Visi Kebangsaan Religius” dalam Mohammad Noor, Moslihan Habib & Muhammad Harfin Zuhdi, 2014 hal. xxvii

[26] Dikutip dari Mohammad Noor, Moslihan Habib & Muhammad Harfin Zuhdi, 2014 hal. 342.

LEAVE A REPLY