Generasi Indonesia Harus Belajar Menghargai Jasa Para Pahlawan Bangsa

0

Oleh: Ari Garmono

Hari pahlawan sudah lewat. Iya, tau. Lagian ini bukan soal hari pahlawan, tapi bagaimana kita menghargai mereka.

Mendapatkan gelar pahlawan nasional itu merupakan sebuah pencapaian yang saya yakini gak pernah terpikirkan atau diniatkan oleh pelakunya. Ia mempunyai mimpi, tujuan dan cita-cita besar. Untuk mencapai itu seseorang harus mengorbankan banyak hal; tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawa. Sepanjang hidup.

Think global, do local. Jadi banyak dari pahlawan-pahlawan kita itu berjuang di sebuah wilayah tertentu dengan isu-isu besar, taruhlah isu-isu kolonialisme, gender, atau kesetaraan pendidikan. Ketika isu-isu besar itu menjadi latar belakang gerakan mereka dan kemudian berdampak luas, mereka bukan hanya milik entitas tertentu. Mereka milik orang-orang yang merasa terwakili oleh perjuangan tokoh-tokoh itu. Hasyim Ashari bukan hanya milik NU, Ahmad Dahlan bukan hanya milik Muhammadiyah dan NTB punya Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Ketika beliau dianugerahi gelar pahlawan nasional, beliau bukan lagi milik organisasi yang didirikannya saja, tetapi menjadi milik Indonesia.

Soekarno mendirikan PNI sebagai wadah perjuangannya atau Buya Natsir membesarkan Masyumi. Tidak ada yang salah dengan itu. Perjuangan butuh alat. Lhaa, wong hal-hal kecil yang kita lakukan saja butuh alat, kok. Jadi garis bawahi; alat. Bukan sektarianisme. Kalo sektarianisme itu sempalan dari kesepakatan-kesepakatan umum.

Jadi mengkait-kaitkan gelar kepahlawanan dengan latar belakang keorganisasian adalah pengabaian kita terhadap jasa-jasa mereka yang sudah diakui oleh negara. Untuk mencapai itu tidak mudah. Persisnya saya lupa, tapi setidaknya indikator kepahlawanan mereka harus diseminarkan, dibukukan, dan melalui riset sejarah tentunya. Jadi nggak main-main. Untuk menghargai jasa-jasa mereka itu, menamakan sebuah tempat atau jalan merupakan hal yang sangat umum terjadi di Indonesia. Sangat biasa. Malah kadang-kadang nama imajiner dari dongengpun bisa jadi nama tempat, misalnya tokoh Sangkuriang, Roro Jonggrang dan lainnya. Tetapi dalam hal ini penamaan nama tempat atau jalan dengan nama tokoh pahlawan, tentu lebih logis.

Terakhir, di era teknologi ini menurut saya isu-isu primordial sudah tidak sesuai dengan zaman – tidak relevan lagi. Yang mesti dikembangkan adalah semangat kompetisi dan kolaborasi. Jadi, banyak hal-hal penting yang lebih layak menjadi bahan perdebatan untuk kemajuan bersama. Jika tidak kita akan ditinggalkan – bahkan ditertawakan.

LEAVE A REPLY