Fraksi Gerindra Iri Hati dan Dengki

2
Foto : dok posbali.com
Foto : dok posbali.com

Kabarlombok.com – Mataram. Tudingan politisasi yang dilontarkan Ketua Fraksi Gerindra DPRD NTB H. Hamja terhadap gelar Pahlawan Nasional yang disematkan kepada Almagfurullah Maulana Syekh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid merupakan bentuk iri hati dan dengki. Kecaman keras itu dilontarkan pemuda NW yang tergabung dalam Hamzanwadi Insitute.

Menurut Sekretaris Hamnzanwadi Institute M. Nashib Ikroman, pernyataan yang disampaikan Hamja merupakan bentuk rasa iri, dengki hati, serta buruk sangka ditambah tidak pernah belajar dan membaca akibatnya akan selalu menghasilkan kesesatan.

“Iri, dengki hati,  buruk sangka, ditambah tidak pernah belajar dan membaca memang akan selalu hasilkan kesesatan,” kata Achieve, sapaan akrab M. Nashib Ikroman saat dihubungi Kabarlombok.com, Kamis (9/11) di Mataram

“Orang yang tidak belajar dan mengaji, akan membentuk orang-orang yang disebut Maulana Syeikh sebagai jahil juhalaq, loq sekeq loq belate (Orang iri dengki seperti pekerjaan syaitan-red),“ sindirnya.

Padahal, kata Achieve, perjuangan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid tidak hanya melawan penjajah baik penjajahan Belanda maupun Jepang, namun melakukan perjuangan melawan kebodohan dan keterbelakangan masyarakat NTB, khususnya Pulau Lombok sejak TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid pulang dari Mekkah.

Archive juga tak lupa menyanyikan bait lagu yang dikarang Maulana Syekh yang berjudul Sakit Jahil sebagai bentuk sindiran terhadap Fraksi Gerindra, “Sakit jahil ndekne arak oatna. Selainan sik te beguru ngaji” (Sakit hati tidak ada obatnya, selain kita berguru ngaji),” kata Achieve.

Seperti diberitakan sebelumnya, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo resmi ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Penyerahan gelar itu simbolis disampaikan dua ahli waris Maulana Syeikh, kepada Ummi Hj. Sitti Rauhun dan Ummi Hj. Sitti Raihanun di Istana Negara Jakarta, Kamis (9/11). (ko)

2 KOMENTAR

  1. Seharusnya kita masyarakat NTB patut bersyukur atas anugrah “Pahlawan Nasional” kepada Al-Magfurlah karena beliau telah mewakili NTB khususnya yang selama ini tidak pernah dimiliki oleh masyarakat NTB, kalaupun ada segelintir orang yang kurang atau tidak setuju, berarti belum memahami dan belum mengenal beliau secara mendalam…..

LEAVE A REPLY