Fiddin Kreasi Politik yang Piawai nan Cerdik Melihat Celah Kekuatan

0
Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto

Kabarlombok.com – Mataram. Belajar dari kekalahan Pilbup Lombok Timur 2013 silam, Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur nomor 4, HM Syamsul Lutfi dan TGH Najamuddin Moestafa (FIDDIN) merupakan kreasi politik piawai nan cerdik melihat celah kekuatan dengan  menggabungkan kekuatan jamaah yakni NU dan NW.  Mergernya dua blok kekuatan jamaah ini  sebagai upaya taktis meraih dukungan suara para jamaah untuk kemenangan Fiddin.

Hal tersebut disampaikan Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto dalam analisis Politik Mi6 menyoroti kinerja dan performance Politik Fiddin “New Generation”, Selasa (13/2).

Menurut prediksi Mi6, akselarisasi Fiddin dibasis  pemilih, khususnya di akar rumput akan lebih efektif dan intensif mengikuti langgam gerak  Zul Rohmi. Dengan armada kecil, Fiddin lebih leluasa bergerak dari satu titik ke titik lain secara informal tanpa protokoler yang justru terkesan membuat jarak dengan konstituen.

Hal ini tercermin dari pola gerakan Cabup, Syamsul Lutfi dan Cawabup Najamuddin Moestapa yang tetap menyambangi konstituen setiap hari, khususnya di wilayah pedesaan. Field trip politik harian Fiddin ini harus dimaknai sebagai cara untuk memperkuat dan mengamankan basis pemilih agar tetap setia dan loyal sampai akhir.

Agaknya Syamsul Lutfi dan jamaah NW tidak ingin mengulang kisah Pilkada Lotim 2013 silam. Apalagi sekarang ‘The Prince” NW Syamsul Lutfi menjadi papan satu sesuai aspirasi Jamaah NW. Tentu ini menjadi spirit baru jamaah NW makin solid dalam menyukseskan Fiddin.

Lebih lanjut Mi6 menilai Uji material soliditas dan loyalitas jamaah NW pastinya akan terlihat nanti dalam survey politik, terakhir saat di TPS. Hal ini penting sebagai alat mengukur  kinerja politik Fiddin dalam melakukan penetrasi dibasis pemilih. “Survey politik sebagai tools  harus diyakini sebagai pandu suar melihat persepsi pemilih,” ujar Didu sapaan akrab Bambang Mei Finarwanto.

Najamuddin sebagai Cawabub, lanjut Didu, akan menjadi tandem politik yang efektif dalam mendulang pundi pundi suara dari kaum Nahdliyin. Selain itu Najamuddin sebagai the rising start dalam jajaran Cawabup juga tetap melakukan turba dan bersilaturahmi ala NU yang mengedepankan ukhuwah islamiyah yang menghormati adat istiadat dan kebiasaan setempat. “Karakter dasar warga Nahdliyin adalah toleran terhadap nilai-nilai dan adat kebiasaan di masyarakat,” ungkapnya

Dalam konteks pemilih dilombok Timur, kata Didu, Fiddin dituntut adaptif dan terbuka dengan kelompok pemilih yang tidak berafiliasi dengan jamaah NU ataupun NW. “Ini tentu butuh treatment tersendiri untuk meraih simpati,” jelas didu sembari mengatakan tagline politik Fiddin sudah menjelaskan harapan kelompok non afiliasi ataupun pemilih pemula.

Solo Run Syamsul Lutfi

Mi6 mengamati Syamsul Lutfi yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Lombok Timur saat ini  terkesan lebih mengutamakan gerakan solo run yang lebih fleksible dan lincah dlm menembus kantong kantong basis pemilih baru pada semua tingkatan strata sosial. Tentu ini berkaitan dengan makin mendekatnya tahapan akhir pilkada bulan Juni 2018. “Secara psykologis politik, Syamsul Lutfi ingin memperluas basis pemilihnya secara terukur dengan cepat dan praktis,” kata Didu.

Selanjutnya Didu menambahkan Lutfi tentu berkejaran dengan waktu sementara dengan luasnya medan geagrafi lombok Timur, maka pilihan taktik Lutfi yang lebih mengedepankan aksi solo run-nya untuk mempercepat akses menguasai pemilih baru. Untuk itu gerak cepat melakukan penetrasi wilayah baru penting dilakukan agar simpul jaringan pemilih terintegrasi dengan baik. “Pada waktunya nanti Fiddin akan menggerakkan mesin partai untuk mengakumulasi jumlah dukungan konstituen,” lanjut mantan Direktur Walhi NTB ini.

Sementara itu Sekretaris Mi6, Lalu Athari Fathullah mengatakan daya jalajah Fiddin jauh lebih rapi dan terukur dalam meraih simpati masyarakat Lombok Timur. Hal ini tak terlepas dari motivasi kuat Syamsul Lutfi dan Najamuddin berbuat terbaik dalam mengemban amanah loyalis vottersnya. “Kecepatan akselerasi membentuk jejaring pemilih baru patut diapresiasi,” kata Athari yang juga Sekretaris KNPI NTB ini.

Kata Athari FIDDIN adalah  Paket yang Komplit dan Efektif,  Di usung dua Partai Politik,  Demokrat dan PKB dengan 11 kursi parlemen.

Paslon nomor 4 ini mewakili unsur organisasi NW dan NU, Karena bagaimanapun juga Najamuddin yang merupakan Mantan Ketua DPW PKB NTB identik dengan kalangan dan keluarga besar NU, sementara itu Syamsul Lutfi representasi dari keluarga besar NW.

Lebih jauh Athar menambahkan berkaca pada PILKADA LOTIM lima tahun lalu,  Syamsul Lutfi yang saat itu maju bersama dengan Sukiman tidak ingin kembali gagal. Dengan gerakan partai Koalisi yang ramping akan memudahkan gerakannya terus turun ke basis masyarakat.
“Syamsul Lutfi adalah sosok politisi yg sudah teruji, gagal jadi Wakil Bupati lima tahun lalu tidak membuatnya patah arang,  Lutfi maju sebagai calon DPR RI NTB dan terpilih sebagai salah satu wakil NTB di Senayan. Kiprah politik Syamsul Lutfi sudah tidak diragukan lagi,  publik sudah mengenalnya sebagai sosok petarung yang gigih dan bersahaja,” ungkapnya sambil menambahkan
Lutfi lebih memilih Lombok Timur sebagai persinggahannya untuk melakukan pengabdiannya.

Bagi Athari pertarungan PILKADA Lotim menjadi menarik dengan dengan Munculnya Khaerul Warisin sebagai Calon Bupati,  karena akan menambah spirit bagi para kandidat lain. Karena Khaerul Warisin yg dulu maju melalui jalur independent kini berubah haluan dan diusung oleh koalisi partai politik.
“Menariknya lagi ada Calon lain yang maju melalui jalur independent untuk mencoba meneruskan tradisi bupati sebelumnya. Maka gengsi politik akan semakin tinggi bila melihat dan berkaca pada PILKADA Sebelumnya,  partai politik tidak ingin kalah untuk yang kedua kalinya,” tambahnya

Dimata Athari segala manuver dan infiltrasi di basis pemilih strategis tidak terlepas dari kuatnya motif Syamsul Lutfi yang tidak mau jadi pecundang lagi dalam Pilbup Lotim. “Fiddin pasti akan all out bertarung secara satria,” lanjutnya.

Untuk itu, kata Athari kekompakan dan soliditas Fiddin akan menjadi simpul utama dalam menggerakkan agenda utama menguasai step by step basis pemilih yang terpetakan secara arah dukungan politiknya. “Disinilah titik krusialnya, apakah Fiddin mampu mengabsorbsi dan merawat kesetiaan pemilihnya hingga Hari H pencoblosan,” ulas Athari.

Dalam berbagai kasus di Pilkada, imbuh Athari tak jarang terjadi migrasi dukungan rakyat ke paslon lain karena hal hal yang tidak elementer. “Pragmatisme rakyat bisa jadi karena proses komunikasi sebelumnya dibangun atas dasar tawaran janji dan angka-angka, bukan dalam kerangka membangun kesadaran kolektif,” pungkasnya. (adm)

LEAVE A REPLY