Faris Thalib “Peneliti Muda yang Terpeleset Kulit Pisang”

0

Oleh : Asror MZ (Pengamat Medsos)

Jika kita mengetikkan kata “Kulit Pisang” di mesin pencarian google, akan muncul banyak sekali informasi terkait kulit pisang. Salah satunya adalah sebuah cerita tentang seorang anak yang mengisahkan dirinya terpeleset oleh kulit pisang yang ia makan sendiri. Si anak ini merasa sangat malu karena sebelumnya sudah dinasihati oleh teman-temannya untuk tidak membuang kulit pisang sembarangan, tapi sengaja diabaikan dan akhirnya dia terpeleset sendiri.

Faris Thalib, ya jika kita mengetikkan nama Faris Thalib di google tidak banyak informasi yang muncul apalagi jika dibandingkan dengan melakukan pencarian kata kunci “Kulit Pisang”. Informasi yang muncul beberapa hanya tentang akun medsos facebook dan twitter. Salah satu akun yang muncul adalah *Al Faris Thalib* jika kita sesuaikan dengan foto profilnya, kita bisa yakin dialah orang yang dimaksud dalam tulisan ini.

Sebelumnya Faris Thalib, yang konon merupakan seorang peneliti muda dan cerdas di sebuah lembaga bernama Indonesia Political Studi, menulis opini disitus berita online www.detikntb.com dengan mengangkat judul “Dua Doktor yang Tak Punya Pikiran”. Jika dilihat dari judulnya tulisan ini cukup nakal dan jika kit baca bisa kita simpulkan tulisan tersebut hanya “kenakalan remaja”.

Satu hal yang menarik, di status Faris Thalib tanggal 13 Januari pukul 21.41 dia menulis *”Perkataan seseorang biasanya mencerminkan suasana hatinya. Hati yang pahit, akan membuat perkataan yang pedas dan tidak nyaman bagi orang lain. Hati yang damai dan bahagia akan membuat perkataan yang nyaman dan menggembirakan bagi orang lain”*. Dari statusnya tersebut dikaitkan dengan tulisan Faris Thalib yang dimuat di detikntb(dot)com, mungkin dia sedang menunjukkan suasana hatinya yang pahit, berada dalam kegalauan dan kebimbangan akibat kondisi hidup yang berat.

Di statusnya yang lain, tanggal 13 Januari pukul 0.13, peneliti muda dan cerdas Faris Thalib, menulis postingan yang menarik yang berjudul “Kirim Mengirim Caci Maki Tim Sukses Pilkada”. Dalam tulisan tersebut Faris memberikan kritik terhadap para tim sukses yang tidak melakukan kegiatan “tukar tambah isi kepala” (public of education, dalam bahasanya Faris) namun hanya bisa mengajak public untuk like dan share caci maki dan kebencian.

Kenapa tulisan di status Faris Thalib itu menarik, jawabannya karena Faris sendiri justru melakukan apa yang dia kritisi. Dalam bahasa tetua bijak “menepuk air di dulang terpercik muka sendiri”.

Tulisan ini merupakan tanggapan atas tulisan Faris Thalib tentang “Dua Doktor yang Tak Punya Pikiran”. Tulisan tersebut sebenarnya tidak menarik untuk ditanggapi karena untuk tulisan seseorang dengan label PENELITI sangat tidak mencerminkan kapasitasnya. Aroma subjektivitas, tendensius dan mungkin pesanan dari pihak tertentu sangat jelas terlihat dari tulisan tersebut.

Analisis yang dimunculkan Faris, sebagai seorang peneliti di lembaga Indonesia Political Studi, sangat dangkal dan tanpa didasari data dan fakta. Salah satunya tuduhan tentang copy paste visi misi hanya dengan melakukan tafsir pribadi atas tagline politik NTB GEMILANG.

Mungkin sebelumnya Faris Thalib lupa membuka aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang di download beberapa waktu yang lalu.
Jadi dari tulisan tersebut bisa kita anggap sebagai tulisan akibat “Kenakalan Remaja”, atau jika benar itu tulisan seorang peneliti Indonesia Political Studi maka kemungkinan itu hasil karya seorang Peneliti Muda dan Cerdas yang Terpeleset Kulit Pisang yang ia buang sendiri.

LEAVE A REPLY