Doa yang Mengerikan!

0

Oleh: Masyhur
Bergiat di Lakpesdam PCNU Lobar

Pernah melintasi jalur kali Meninting?
Bila anda melewati jalur jembatan kali Meninting, alihkan pandangan sejenak ke kiri. Tengok, luangkan waktu sebentar saja. Perhatikan ! Pasti dikejutkan tulisan spanduk yang bertuliskan, “Ya Allah Cabutkan Nyawa Orang yang Buang Sampah di sini dan bila dia Meninggal Busukkan Mayatnya seperti Sampah”
Di akhir tulisan, tertulis pemerintah kecamatan Batulayar.

Miris. Bukan malah mengedukasi, nada sekaligus makna spanduk tersebut justru menyimpan sesuatu yang buruk bahkan sangat jauh dari nilai-nilai etis dan manusiawai.

Dalam benak, saya berpikir, “Oknum yang membuatnya pasti tak jeli. Cenderung mengedepankan nafsu ketimbang hati dan perasaan”.
Tampaknya oknum yang buat spanduk alpa terhadap nilai-nilai kehidupan.

Saya meminta tanggapan beberapa teman, kolega dan sahabat prihal doa yang bertuliskan di spanduk berbunyi…
Spanduk itu nampang di pinggiran kali Meninting, tepatnya di sebelah timur.

Ada yang langsung respon. Ia bilang, “Doa yang ngeri”. Jawaban yang sama juga saya dapatkan dari teman lain. Ia melanjutkan, “Serem sekali pemerintah kita. Mungkin mereka mau adu kekuatan sugesti secara psikologis setiap orang.
Tapi kalo secara keseluruhan sih, itu terlalu berlebihan.

Mengapa bunyi kalimat bernada sentimen dan buruk itu dibentangkan di pinggir jalan? Apa pemerintah Batulayar sudah kehabisan kata-kata atau kalimat untuk memberikan contoh sebuah ungkapan/kalimat yang bernilai edukasi kepada masyarakat. Pertanyaannya? Apa tak ada ungkapan yang lebih halus dan menyentuh emosi pembaca. Apa Pemerintah Kecamatan Batulayar kehabisan kata, ungkapan, untuk menulis sesuatu yang enak dibaca, hingga menukik perasaan pembaca.

Saya pikir, kalau itu alasannya, kurang tepat. Setahu saya, orang yang bekerja di pemerintahan, mereka adalah orang-orang pintar, cerdas dan berwibawa. Mereka adalah pribadi/kelompok-al-khawwas-meminjam istilah Imam Al-Ghazali. Apa al-khawwas itu? Al-khawwas adalah kelompok manusia pilihan. Dianggap pilihan karena sudah mampu berpikir di atas rata-rata kebanyakan masyarakat awam.

Belum lagi strata sosial sebagai abdi negara PNS yang disandangnya, menunjukkan bahwa mereka lebih tinggi satu tingkat ketimbang masyarakat awam, termasuk saya. Lalu, apa iya tulisan spanduk itu kita anggap baik. Kalau saya sich, kurang setuju. Memang dalam setiap segala sesuatu selalu ada pro kontra. Dan saya berada di posisi yang kontra, sebab dari sisi etika makna dan substansi kalimat itu berbenturan dengan doktrin agama.

Anda setuju dengan tulisan itu? Monggo. Menolak juga iya. Saya berada di pihak menolak. Ingat jangan sampai ketidaksukaan anda terhadap sesuatu, melenyapkan etika dalam diri anda.

Kini, era sudah berbeda. Dalam setiap kebijakan yang juga menjadi harapan, ada hal-hal yang patut dan perlu dipertimbangkan. Era 4.0 juga menuntut relasi sosial berbasis pada pertimbangan kemanusiaan (humanisme), bukan golongan dan sektarianisme. Artinya, ideologi dan agama dituntut mampu mengedepankan dan merumuskan konsep kemanusiaan yang melintas batas etnisitas, sekte, ideologi, dan agama (Zainudin, 2020)

Saya tergabung dalam group WA. Di dalam group itu, sekumpulan fasilitator literasi baca-tulis se NTB ada di dalamnya. Termasuk kepala Pusat Bahasa Provinsi NTB, Hj. Ummi Kalsum.
Di group itu, saya melempar unduhan gambar spanduk yang mengandung doa mengerikan itu.
Dari sisi bahasa, kalimat dalam spanduk yang mengandung doa mengerikan itu boleh jadi benar. Salah satu teman group fasilitator literasi baca-tulis NTB, menulis, “Secara linguistik, tulisan itu tidak ada masalah. Satuan-satuan yang dipilih merupakan satuan gramatikal bahasa. Itu jelas. Namun, secara substansi isi, kalimat itu sudah menyalahi aturan agama dalam berdoa. “Doa seperti ini tidak akan dikabulkan karena mengandung unsur maksiat antar sesama,” kata temenku itu via WA di group.

Bagaimana kalau salah seorang di antara keluarga anda (orang tua/adik/family terdekat), terutama yang sepakat dengan tulisan itu (apalagi yang membuat), tanpa sepengetahuan anda, pernah buang sampah di mana itu tulisan itu kau bentangkan? Seperti itukah doa kalian kepada mereka? Saya yakin, anda akan dianggap anak durhaka. Anda akan dianggap orang yang paling kurang beretika sebab doa yang kau panjatkan.

Saya yakin, seyakin yakinnya, doa yang diterima oleh Allah adalah doa yang mengandung kebaikan, untuk diri dan orang lain.

Doa yang tidak baik, hanya akan membuat celaka. Doa (yang mengerikan) sebagaimana judul tulisan tidak baik, sepertinya akan memantul balik ke muka si pelantun ‘doa’ boleh jadi. Kita doakan saja tidak.

LEAVE A REPLY