Dapur Umum IWAPI Harapan 16 Dusun di Selebung, Pemda kemana?

0
Baiq Diyah Ratu Ganefi saat meninjau lokasi korban gempa di Desa Selebung

Kabarlombok.com – Mataram

Korban gempa yang berada di Desa Selebung Kecamatan Batu Kliang Kabupaten Lombok Tengah luput dari perhatian pemerintah. Fakta lapangan di 8 Dusun dari 16 Dusun di Desa tersebut menjadi potret citra buruk lambannya penanganan korban bencana alam gempa bumi. Sedikitnya 200 lebih Kepala Keluarga (KK) pasca gempa dahsyat 7 SR awal bulan lalu, hingga kini masih bertahan di beberapa titik tenda pengungsian swadaya. Meski banyak diantara para pengungsi tersebut yang akhirnya berpindah – pindah tenda pengungsian lantaran minimnya bantuan khususnya tenda atau terpal yang dikatakannya sebagai rumah sementara.

Masih terpancar raut keresahan dari para warga korban gempa ini, hanya karena Kepala Daerah yang dibanggakannya belum berbuat banyak untuk pemulihan kondisi daerah pasca gempa. Terlebih harapan untuk merekonstruksi bangunan rumah dan fasilitas umum yang kini telah menjadi puing reruntuhan.

“Sudah kami ajukan permintaan bantuan ke Pemkab Loteng, menggunakan data acuan sementara. Artinya biar warga ini cepat bisa dibantu ditangani dulu, tapi sampe sekarang belum ada terlihat. Kami hanya mendapatkan bantuan seadanya dari donator swasta meski bantuan itu tidak bisa mengkafer secara keseluruhan jumlah korban yang terdampak,” kata Sekretaris Desa Selebung, Usman, saat ditemui pada Kamis (16/8).

Beruntung warga masih memiliki dapur umum yang kini menjadi harapan para korban gempa untuk bertahan hidup sementara waktu. Dapur umum yang digagas oleh Baiq Dyah Ratu Ganefi dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) NTB ini bekerjasama dengan Pemerintah Desa, mampu menyalurkan masing-masing 400 bungkus nasi pada siang dan sore hari.

“Makanan ini kita distribusikan untuk 16 Dusun, namun tidak secara menyeluruh sekaligus kita bagikan tapi secara bergilir. Misalnya hari ini Dusun ini, besoknya Dusun lain, begitu seterusnya disesuaikanlah,” ucap Suhartiningsih, Ketua DPC IWAPI Kabupaten Lombok Tengah selaku penanggungjawab.

Meski demikian berdirinya dapur umum bagi korban gempa di desa ini tak lantas dapat berperan secara maksimal. Kurangnya tenaga yang memasak, kerap kali menjadi kendala dalam pendistribusian makanan ke setiap poko pengungsian dari 16 Dusun yang ada. Ini menurutnya karena para ibu – ibu pemasak yang juga menjadi korban gempa, masih was – was dan memiliki tanggungjawab juga bagi keluarganya yang berada di pengungsian.

“Kurang tenaga yang memasak, ibu-ibu disini masih was-was antara menjaga keluarga dengan menjadi relawan yang memasak. Karena disini juga apa yang kita dapatkan sumbangan itu yang kita olah menjadi makanan sehari-hari,” sambung wanita yang akrab disapa ibu Ning ini.

Sementara anggota DPD RI yang juga Ketua Iwapi NTB Baiq Diyah Ratu Ganefi meminta Pemkab Loteng lebih tanggap menangani korban gempa bumi yang ada di wilayah ini. Dari hasil pantauannya di beberapa titik pengungsian sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah daerah Loteng. Para pengungsi hanya mengandalkan bantuan dari para donator dan dermawan yang peduli terhadap kondisi pengungsi.

“Saya heran sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah padahal kondisi di daerah ini terbilang parah, kami mencoba membantu sebisa mungkin, dan itu pasti akan kurang, saya berharap pemda segera mendistribusikan bantuan ke wilayah Selebung ini,” ucapnya cemas saat melihat kondisi para pengungsi tersebut.(bn)

LEAVE A REPLY