Bupati Ali Buka Dialog Kebudayaan

0

kabarlombok.com | Lombok Timur

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur, melalui Bidang Kebudayaan menggelar Dialog Kebudayaan Daerah Kabupaten Lombok Timur, Sabtu (23/9) bertempat di Lesehan Rindang Rasa, Sawing. Sejumlah hal diangkat dalam dialog ini, di antaranya keberadaan Situs budaya, Pakaian adat Sasak, dan Perkawinan adat sasak. Hal itu bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat keberadaan dan fungsi situs budaya ini utamanya generasi muda, sehingga ke depan tetap lestari.

Acara tersebut dihadiri Bupati Lombok Timur, H.Moch. Ali bin Dachlan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, Dinas Sosial, P3AKB, Kepala UPTD se Lombok Timur, Pengawas SD dan SMP serta Undangan Lainya.

Bupati Lombok Timur dalam sambutanya menyampaikan bahwa sebelum pemerintahan Raja Karang Asem tahun 1740 suku Sasak sudah memeluk agama Islam, demikian pula dengan kerajaan-kerajaan yang ada pada jaman itu, seperti Selaparang, Kedaro dan Pejanggik. Karenanya dasar-dasar pembangunan budaya sasak bersumber dari pikiran-pikiran sebelum tahun 1740.

Ia menambahkan untuk membangun masyarakat suku sasak sekarang perlu memikirkan dari mana memulainya. Begitulah dialog semestinya. Ditambah dengan mendatangkan ahli-ahli kebudayaan.

“Orang-orang Sasak lama terutama para kiayi dan para alim ulama menggunakan ikat kepala putih atau sapuk putek di daerah Bayan. Itu menggambarkan ketingian derajat pemikiran dan kerohanian, sebab warna putih melambangkan keputihan jiwa, tidak menerjang pagar-pagar sebagai simbol ketulusan, dan kejujuran sementara yang kita gunakan sekarang ini merupakan kesenagan saja, simbol dari seni,” paparnya.

Selain itu, Ali mengingatkan bahwa kebudayaan merupakan komplek nilai dan gagasan penting yang ada pada manusia atau sekelompok manusia. Seni adalah bagian kecil dari kebudayaan sementara pemikiran menjadi yang utama di dalam komplek ini.

“kebudayaan adalah pikiran-pikiran yang baik yang mendorong ke arah yang lebih baik dan saling tolong menolong,” lanjutnya.

Lebih lanjut Ia berharap bangsa sasak tidak mengulangi masa lalu dan cukup dijadikan sebagai bagian dari sejarah, namun terus melangkah ke depan dengan menghidupkan budaya. (tur)

LEAVE A REPLY