Bangun Ekonomi Umat, Santri Darussyifa Diajarkan Cara Berwirausaha

0

FOTO: : Para santri dan pengelola pondok pesantren Darusyyifa saat mendapatkan pembekalan kewirausahaan (kabarlombok.com)

Kabarlombok.com – LOTIM
Puluhan santri dan pengelola Pondok Pesantren Darusyifa Desa Tirpas Kecamatan Labuhan Haji Lombok Timur, diberikan pelatihan interpreneurship atau cara berwirausaha. Pelatihan itu diberikan TAO Institute, diaula perpustakaan Ponpes Darussyifa, tidak lama ini.

Direktur TAO institute, Muhammad Aminulloh mengatakan, TAO institute dikatakanya bergerak bergerak disektor ekonomi kerakyatan. Berwirausaha salah satu cara membangun kekuatan ekonomi umat. Tentu, untuk maju melalui sector wirausaha, harus memiliki skill.

“Mudahan, adanya wokshop kewirausahaan ini, dapat membantu pengelola pondok dan santri, untuk menjadi seorang wirausahawan,” harap Amin singkat.

Pengurus Ponpes Darussyifa H Taufan Iswandi menyampaikan terimakasih atas pemberian wawasan, pengetahuan, keilmuan dan lainnya, untuk kewirausahaan. Alasan memilih santri yang sudah tamat aliyah di Ponpes ini mengikuti pelatihan kewirausahaan, agar bisa menjadi bekal ketika sudah keluar dari Ponpes tersebut.
Karena itu, pihaknya saat itu mengimbau agar teori yang diperoleh dalam pelatihan ini, di ikuti dengan baik dan untuk diamalkan. Sebab, ilmu itu bila tak diamalkan, akan seperti pohon tak berbuah.

“Kami Darusyifa siap bekerjasama dengan pemerintah, untuk meningkatkan skill kemandirian wirausaha santri dan pengelola pondok. Sehingga, kedepan menjadi orang yang mandiri,”tegasnya.

Pada kesempatan itu, Sekretaris Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lotim, H Rahman mengatakan, isntitusinya sangat mendukung workshop kewirausahaan ini. Diharapkannya, ilmu yang diperoleh dari pelatihan itu, bisa dikembangkan.

“Sekarang teknologi semakin modern, membuat kita harus terus beradaptasi. Kemajuan teknologi, bisa dimanfaatkan untuk mendukung kewirausahaan kita,”terangnya.

Disnakertrans Lotim ucap Rahman, mempunyai beberapa program yang bisa di ikuti oleh pengelola pondok mau pun santri. Program tersebut, salah satunya seperti Tenaga Kerja Mandiri (TKM). TKM salah satu wadah pelatihan untuk mengembangkan diri dan hidup mandir. Dalam TKM itu, ada kursus bahasa inggris, menjahit, perbengkelan, mebel, rangka baja dan sebagainya, yang bisa di ikuti satnri laki-laki mau pun perempuan.

“Pelatihan ini, bisa kita laksanakan diluar atau dalam lingkungan sekolah,”lugasnya.

Untuk bisa mendapatkan pelatihan menjahit dan lainnya, ponpes bisa membentuk kelompok dari kalangan santri minimal satu kelompok 10 orang.

“Selama ini Daerah kita menjadi penymbang tenaga kerja an skill cukup tinggi. Karena itu kita ingin dari TKM ini, bisa menjadi tenaga kerja yang kompetitif, lebih unggul dan diperhitungkan,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Ahmad Busyairi, saat memberikan gambaran membangun wirasuaha melalui film pendek. Film itu, menggambarkan sulitnya mencari pekerjaan dan persaingan yang semakin ketat. Sehingga, kewirausahaan adalah satu-satunya solusi canggih, menghadapai problem ekonomi.

“Membangun wirausaha, harus berani mengambil risiko, menjalankan usaha sendiri, memanfaatkan peluang untuk menicptakan usaha baru, inovatif, dan mandiri,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2018, angkatan kerja Indonesia tahun 2016 sebanyak 125,44 juta atau 7,03 persen dari jumlah penduduk. Sementara tahun 2017 sebanyak 128,06 juta atau 7,04 persen dari jumlah penduduk. Artinya, kesempatan kerja dinegeri ini semakin sempit, sehingga harus berwira usaha.

Kenapa harus berwira usaha sambung Busyairi, untuk menjaga diri dan umat islam. Satu contoh, kehalalan makanan produk luar negeri itu, belum tentu halal. Demikian juga pakaian, apakah dijamin kehalalalnnya terutama dari segi bahan-bahan yang digunakan dan lainnya.

“Generasi umat islam harus berwiarusaha, agar masyarakat mengkonsusi produk halal. Jangan sampai mengkonsumsi barang yang tak jelas asal muasalnya,”Ucapnya memberi semangat.

Lebih jauh dijelaskan Busyairi, cara menumbuh kembangkan mental berwirausaha yakni, melalui komitmen pribadi, melalui lingkungan dan pergaulan yang kondusif. Termasuk, melalui pedidikan dan pelatihan,. Ia berharap kedepan santri Darussyifa, setelah belajar berwirausaha menjadi awal yang baik, untuk menjadi modal ketika keluar dari Ponpes.

“Percaya diri, bangun jaringan, kreatif, inovatif adalah modal penting dalam berwirausaha. Paling penting juga, cari tau apa yang dibutuhkan masyarakat. Jangan asal lempar produk, tanpa tahu kebutuhan pasar,”pungkasnya. (zn)

LEAVE A REPLY