Ternyata Kakeknya TGB Pahlawan Nasional “Hamzanwadi” punya sanad ilmu yg sama Dengan Syaikh Ahmad Deedat- Dr Zakir Naik

0

 

Oleh: Deki Zulkarnaen, wartawan online lokal

Bicara tentang tokoh maka salah satu hal yang paling menarik adalah mengungkit atau menggali sanad keilmuannya. Apatah itu perjalanan mereka dalam mencari ilmu dan mengetahui siapa guru-guru mereka. Sebab, selalu ada guru yang luar biasa dari para tokoh. Gurulah yang menginspirasi muridnya. Guru jualah yang membentuk karakter mereka. Karena memang demikianlah seharusnya seorang guru, yakni menginspirasi.

Melihat judul tersebut mungkin pembaca ada yang kaget, heran bahkan acuh. Memang jika dilihat dari sisi manapun, tiga tokoh yang menjadi poin tulisan ini berbeda. Entah itu jarak tempat, waktu dan komunikasi.

TGKHM Zainuddin Abdul Madjid (Hamzanwadi) atau yang dikenal masyarakat Lombok dengan Tuan Guru Pancor mungkin tak pernah berkomunikasi dengan Syaikh Ahmad Deedat seorang ahli tentang perbandingan agama dari Afrika Selatan. Lebih-lebih kemudian dengan Dr Zakir Naik yang dalam beberapa tahun terakhir dunia sedang membicarakannya terutama terkait keahliannya dalam konsep perbandingan agama yang ilmunya lebih luas lagi dengan Ahmad Deedat, yang kemudian kita tahu ia ternyata guru dari Dr Zakir Naik.

Lantas mengapa saya katakan ada guru yang sama walau secara tidak langsung antara Tuan Guru Pancor dengan Ahmad Deedat dan Zakir Naik? Jujur saya katakan saya juga juga baru tahu. Dan itu semuanya berawal dari sebuah kitab berjudul ‘Izharul Haq’. Dengan kitab itulah saya menarik benang merah adanya guru yang sama antara Tuan Guru Pancor-Ahmad Deedat-Dr Zakir Naik.

Sebelum masuk ke korelasi tersebut. Baiknya kita mengetahui sejenak profil perjalanan ketiga tokoh ini. Terutama terkait perjalanan keilmuwan mereka. Sebab dengannyalah korelasi tersebut akan menjadi terang.

Pertama, TGKHM Zainuddin Abdul Madjid, adalah seorang ulama’ kharismatik di tanah Lombok. Lahir pada tahun 1898. Beliau sangat disegani oleh masyarakat Lombok. Tuan Guru Pancor ini merupakan datuk/kakek dari Gubernur NTB saat ini, TGB Dr M Zainul Majdi. Dimana tidak lama ini, ia dianugerahi menjadi sebagai Pahlawan Nasional RI.

Hatta, beliau masa mudanya menuntut ilmu sampai ke Mekkah Al Mukaromah. Dimana ia menuntut ilmu di sebuah madrasah yang cukup terkenal pada masa itu, madrasah As Saulatiyah.

Berikut saya kutip utuh hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan di Wikipedia mengenai ihwal Tuan Guru Pancor menuntut ilmu di Madrasah Saulatiyah. Tentang bagaimana kecerdasan dan hormatnya kepada guru.

“… TGKH. Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd muda berkenalan dengan seseorang yang bernama Hajji Mawardī dari Jakarta. Dari perkenalannya itu ia diajak untuk belajar di madrasah al-Shaulatiyah, yang saat itu dipimpin oleh Syaīkh Salīm Rahmatullāh. Pada hari pertama masuknya ia bertemu dengan Syaīkh Hasan Muhammād al-Masysyāth.

Madrasah al-Shaulatiyah adalah madrasah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam pendidikan di Arab Saudi. Madrasah ini sangat legendaris, gaungnya telah menggema di seluruh dunia dan telah menghasilkan banyak ulama-ulama besar dunia. TGKH. Muhammad Zainuddin masuk Madrasah al-Shaulatiyah pada tahun 1345 H (1927 M) yang waktu dipimpin (Mudir/Direktur), Syaikh Salim Rahmatullah yang merupakan cucu pendiri Madrasah al-Shaulatiyah. Sudah menjadi tradisi bahwa setiap thullab yang masuk di Madrasah Al-Shaulatiyah harus mengikuti tes masuk untuk menentukan kelas yang cocok bagi thullab. Demikian pula dengan TGKH. Muhammad Zainuddin, juga ditest terlebih dahulu. Secara kebetulan diuji langsung oleh Direktur al-Shaulatiyah sendiri, Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath.

Zainuddin secara resmi masuk Madrasah al-Shaulatiyah mulai dari kelas 2. Prestasi akademiknya sangat istimewa. Beliau berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Dengan kecerdasan yang luar biasa, TGKH. Muhammad Zainuddin berhasil menyelesaikan studi dalam waktu hanya 6 tahun, padahal normalnya adalah 9 tahun. Dari kelas 2, diloncatkan ke kelas 4, kemubeliaun loncat kelas lagi dari kelas 4 ke kelas 6, kemudian beliau pada tahun-tahun berikutnya naik kelas 7, 8 dan 9.

Predikat istimewa ini disertai pula dengan perlakuan istimewa dari Madrasah Al-Shaulatiyah. Ijazahnya ditulis langsung oleh ahli khat terkenal di Mekah, yaitu Al-Khathath al-Syaikh Dawud al-Rumani atas usul dari direktur Madrasah al-Shaulatiyah. Prestasi istimewa itu memerlukan pengorbanan, ibu yang selalu mendampingi selama belajar di Madrasah al-Shaulatiyah berpulang ke rahmatullah di Mekah. Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menyelesaikan studi di Madrasah al-Shaulatiyah pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H dengan predikat “mumtaz” (Summa Cumlaude)…” (Kutipan selesai).

Tuan Guru Pancor wafat pada tahun 1997. Para murid beliau, pecinta beliau datang dari seluruh penjuru guna menghadiri pemakamannya.

Baik, sampai di situ dulu mengenai Tuan Guru Pancor. Sekarang berlanjut ke Syaikh Ahmad Deedat. Ia lahir di India pada tahun 1918. Kemudian ayahnya, Husain Deedat berimigrasi ke Afrika Selatan karena saat itu kuatnya tekanan oleh kolonial Inggris di India. Husain Deedat yang seorang penjahit mengajak serta anaknya yang masih kecil, Ahmad Deedat.

Di negara asing tersebut, Ahmad Deedat sempat mengecap sekolah formal tidak sampai tamat karena terbentur biaya. Ia lantas belajar secara otodidak. Ia belajar bahasa Inggris pun secara otodidak hingga akhirnya fasih.

Titik balik hidupnya berubah ketika beberapa siswa dari sekolah misionaris mengejeknya dengan menyebut agama Islam buruk, agama Kristen terbaik. Begitu terus tiap waktu. Akhirnya ia bertekad akan belajar untuk mendebat siswa tersebut. Lebih-lebih ketika ia mendapati sebuah buku yang dibawa ayahnya dari India. Buku tersebut yakni, ‘Izharul Haq’—Inilah Jalan Yang Benar.

Buku tersebut berisi penjelasan tentang perdebatan Muslim dengan misionaris Kristen Inggris yang menjajah di India dari pengalaman penulisnya sendiri. Lewat buku inilah Ahmad Deedat mulai terbuka pikirannya. Buku tersebut lahap dibacanya. Selain itu kitab Bible pun dipelajarinya.

‘Izharul Haq’ sangat memengaruhi Ahmad Deedat kala itu. ‘Izharul Haq’ lah yang menginspirasi beliau. Di tiap biografi tentangnya, namanya tidak bisa dipisahkan dengan ‘Izharul Haq’. Dengan izin Allah, kemudian lewat lisannya, Ahmad Deedat menjadi jalan ribuan orang umat Kristiani masuk Islam. Oleh kerajaan Saudi Arabia, ia mendapat penghargaan tertinggi ‘King Faisal International Prize’ atas pelayanannya terhadap dunia Islam.

Ahmad Deedat kemudian meninggal pada tahun 2005 lalu. Dengan meninggalkan buah karya setidaknya 20 judul buku.

Mengenai Ahmad Deedat, kita sejenak berhenti sementara sampai disini.

Kini berlanjut ke dr Zakir Naik. Siapa kini yang tidak kenal beliau. Ia adalah pembicara Internasional ahli perbandingan agama. Background studinya memang bukan agama. Tapi seorang dokter. Dari India.

Namun, Zakir Naik mengatakan ia terinspirasi oleh Syaikh Ahmad Deedat. Zakir Naik bahkan menjadi supir pribadi Ahmad Deedat untuk beberapa waktu. Kemudian, ia beralih sepenuhnya sebagai pembicara. Tak tanggung-tanggung ceramahnya selalu dihadiri ribuan orang. Bahkan ia dijuluki ‘Ahmad Deedat plus’ oleh Ahmad Deedat sendiri. Bahkan Ahmad Deedat pada saat sakit sempat mengatakan kata-kata ketika dijenguk Zakir Naik.

“Kau anakku, telah mencapai hanya dalam waktu empat tahun (kegemilangan) apa yang telah aku tempuh selama empat puluh tahun,”.

Sama seperti Ahmad Deedat, Zakir Naik juga mendapat penghargaan dari kerajaan Arab Saudi, ‘ King Faisal Internasional Prize’ pada tahun 2015 lalu.

Pembahasan mengenai profil tiga tokoh tersebut cukup sampai di sana. Kemudian balik ke pertanyaan awal, apa korelasi antara ketiganya? Lantas ada apa dengan ‘Izharul Haq’?

Kitab Izharul Haq ditulis oleh seorang ulama asal India. Izharul Haq adalah karya Syeikh Muhammad Rahmatullah bin Kalil ar-Rahman al-Kairanawi (1818-1891). Ia mungkin bisa dikatakan ahli perbandingan agama pertama. Kitab Izharul Haq merupakan buah pikirnya bagaimana perlawanan terhadap misionaris Kristen Inggris di India pada waktu itu. Oleh pemerintahan Inggris ia dicari-cari. bahkan siapa yang bisa menunjukan tempat persembunyiannya diberikan hadiah. Karenanya ia meninggalkan negerinya kemudian menuju Mekkah.

Tahukah Anda, Syaikh Rahmatullah inilah pendiri awal madrasah Salafiyah di Mekkah. Ia adalah kakek dari Syaikh Salim Rahmatullah mudir madrasah Saulatiyah pada masa Tuan Guru Pancor belajar di sana.

Begitulah, secara tidak langsung ada korelasi sanad keilmuan yang mengalir dari pokok pohon yang sama yakni dari Syaikh Rahmatullah pada ketiga tokoh tersebut.

Syaikh Ahmad Deedat dan dr Zakir Naik dengan kekuatan argumennya menyadarkan umat untuk menyakini agama ini. Bahkan ribuan non-muslim menerima Islam sebagai agamanya.

Begitu juga dengan Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid dakwahnya menerangi umat. Bahkan, penulis sempat mendengar dari tokoh adat Sembalun, Maulana Syaikh sangat besar jasanya dalam memberikan pemahaman Islam yang benar kepada penganut Islam Wetu Telu di Gumi Sasak.

Tulisan ini semata-mata ditulis dengan tujuan membangun diskusi sejarah serta memaknai bagaimana sesuatu yang berkah Insha Allah akan tetap mengalir, menguncup, tumbuh, kemudian berbuah.

Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY